Embung Sumbergondang Jombang Terus Mengering, Petani Berburu Sumur untuk Selamatkan Tembakau

Anggi Fridianto • Dipublikasikan Senin, 10 Agustus 2026 | 06:00 WIB
KERING: Tanah area Embung Sumbergondang, di Desa Sumbergondang, Kecamatan Kabuh merekah usai debit air mulai berkurang.
KERING: Tanah area Embung Sumbergondang, di Desa Sumbergondang, Kecamatan Kabuh merekah usai debit air mulai berkurang.

RadarJombang.id – Embung Sumbergondang di Desa Sumbergondang, Kecamatan Kabuh, mulai menyusut memasuki puncak musim kemarau.

Air yang tersisa tak lagi mengalir normal ke lahan pertanian. Petani tembakau pun harus berburu sumber air lain, mulai menggunakan mesin diesel hingga mengandalkan sumur di tengah sawah.

Pantauan di lokasi, embung yang berada di kawasan perbukitan itu masih menyisakan air. Namun, debitnya terus berkurang.

Baca Juga: Embung Grojokan Jombang Bocor, BBWS Brantas Turun Tangan Lacak Sumber Kebocoran

Sedikitnya dua mesin pompa air terpasang di sekitar embung. Mesin digunakan untuk menyedot sisa air dan mengalirkannya melalui pipa menuju saluran irigasi yang mengarah ke lahan pertanian.

”Juni dan Juli lalu, air embung masih mengalir. Namun, kini harus di-disel untuk mengairi tanaman,” terang Warno.

Warno, warga sekaligus petani setempat, mengatakan Embung Sumbergondang selama ini tidak pernah benar-benar kering.

Baca Juga: Kemarau Mulai Terasa, Debit Air Embung Grojokan Jombang Menyusut Drastis

Air embung disebutnya berasal dari kawasan hutan Perhutani di bagian atas. Saat kemarau, alirannya tak lagi mampu memenuhi kebutuhan pengairan seperti kondisi normal.

”Kalau kemarau seperti ini airnya menyusut,” imbuhnya.

Seiring debit air yang terus menyusut, sebagian petani mulai beralih ke sumber air lain.

Salah satunya Panji, petani tembakau setempat. Dia kini mengandalkan sumur yang berada di area persawahan untuk menyiram tembakau karena air embung sudah tidak mengalir normal hingga ke lahannya.

”Ini saya pakai sumur di sawah untuk menyiram tembakau,” ujarnya.

Berbeda dengan petani lain yang menggunakan mesin pompa, Panji mengambil air dari sumur secara manual untuk menyiram tanaman.

Pengairan dilakukan sekitar dua kali dalam sepekan, terutama ketika cuaca panas dan terik.

”Berhubung cuaca sekarang agak terik dan panas. Disiramnya kadang seminggu dua kali. Biar daun semakin bagus,” tuturnya.

Baca Juga: Sudah Bebas Lahan Sejak 2023, Proyek Embung Purisemanding di Plandaan Jombang Masih Mangkrak

Sumur tersebut juga digunakan secara bergantian dengan petani lainnya.

Meski demikian, penggunaan air masih memungkinkan karena kebutuhan air tanaman tembakau tidak terlalu banyak.

Kepala Bidang SDA Dinas PUPR Jombang, Sultoni, menegaskan penyusutan debit saat kemarau tak terhindarkan.

”Kemarau pasti menyusut. Tinggal bulan apa, itu variatif. Sumbergondang agak bertahan, tapi tetap lebih cepat surut,” ujarnya.

Faktor utama ketahanan embung adalah sumber air dan kapasitas tampungan.

Jika sumber terbatas dan tampungan kecil, durasi simpanan air makin singkat.

”Sumber terbatas, kapasitas kecil, otomatis daya simpan pendek,” imbuhnya.

Meski begitu, konstruksi Embung Sumbergondang dinilai lebih baik dibanding embung lama.

Bangunannya disebut mendekati Embung Grojokan yang dibangun pemerintah pusat era 2000-an.

”Secara konstruksi lebih besar dan sudah memenuhi kaidah teknis,” jelasnya. (fid/naz)

 

 

Editor : Achmad RW
Embung Sumbergondang Terganggug Jombang kering pengairan