Waspada! Tanaman Tembakau di Kabuh Jombang Diserang Penyakit Diduga Jamur

Azmy endiyana Zuhri • Dipublikasikan Rabu, 29 Juli 2026 | 07:06 WIB
MASIF: Tanaman tembakau di Desa Tanjungwadung, Kecamatan Kabuh terlihat layu setelah terserang jamur.
MASIF: Tanaman tembakau di Desa Tanjungwadung, Kecamatan Kabuh terlihat layu setelah terserang jamur.

 

JOMBANG – Sebagian tanaman tembakau di Kecamatan Kabuh mulai terserang penyakit yang diduga disebabkan jamur. Serangan itu membuat daun tanaman layu sehingga petani diminta meningkatkan kewaspadaan di tengah cuaca yang tidak menentu.

Kepala Bidang Perlindungan Pascapanen dan Pemasaran Hasil Pertanian Dinas Pertanian (Disperta) Jombang Ahmad Jani Masyhudi mengatakan, penyebab pasti penyakit tersebut masih didalami. Sampel tanaman telah dikirim ke laboratorium untuk dilakukan pengujian.

”Untuk pastinya masih di laboratorium. Dugaan sementara memang mengarah ke serangan jamur,” ujarnya, Senin (27/7).

Menurut Jani, serangan penyakit diduga dipicu perubahan cuaca yang cukup ekstrem sejak awal musim tanam. Lahan sempat tergenang air, kemudian disusul cuaca panas pada siang hari dan suhu lebih dingin pada malam hari. Kondisi tersebut berpotensi memicu berkembangnya penyakit tanaman.

”Ada faktor cuaca juga. Awal musim tanam lahan sempat tergenang, kemudian cuacanya sangat panas, lalu dingin. Kondisi seperti ini memang berpotensi memicu serangan penyakit,” jelasnyatBaca Juga: 15 Ribu Petani Tembakau Jombang Terima Pupuk NPK, Tapi Jumlahnya Jauh dari Kebutuhan Ideal

Berdasarkan laporan sementara, serangan ditemukan di areal pertanaman tembakau Desa Tanjungwadung, Kecamatan Kabuh. Namun, Disperta masih melakukan pendataan sehingga belum dapat memastikan luas lahan yang terdampak.

 ”Sementara yang terpantau berada di Desa Tanjungwadung, Kabuh. Untuk luasan masih kami lakukan pendataan,” katanya.

Jani menjelaskan, tanaman yang terserang rata-rata berumur 50 hingga 60 hari. Gejalanya ditandai daun yang mulai layu. Meski demikian, kondisi tersebut masih memungkinkan dikendalikan sehingga petani belum perlu melakukan tanam ulang. ”Masih memungkinkan dikendalikan,” tegasnya.

Sebagai langkah penanganan, Disperta menggandeng Balai Besar Perbenihan dan Pelindungan Tanaman Perkebunan (BBPPTP) Surabaya yang berada di Mojoagung untuk mengidentifikasi penyebab penyakit sekaligus menentukan langkah pengendalian yang tepat. 

 

"Dalam diskusi dengan petani di lapangan, ke depan kami arahkan agar budidaya diperbaiki sejak awal. Penggunaan pupuk organik dan agens hayati perlu ditingkatkan, sementara penggunaan pupuk maupun pestisida kimia dikurangi. Harapannya tanaman lebih sehat dan lebih tahan terhadap serangan penyakit," pungkasnya. (yan/naz)

Editor : Anggi Fridianto
Tembakau Jombang Kabuh Jombang Petani Jombang disperta jombang Jombang