JOMBANG - Musim kemarau biasanya menjadi momentum petani beralih menanam jagung. Namun, kondisi berbeda terjadi di Jombang tahun ini.
Luas tanam jagung justru diproyeksikan menyusut karena sebagian lahan tetap diarahkan untuk mendukung program peningkatan produksi padi.
Kepala Dinas Pertanian (Disperta) Jombang M. Rony memproyeksikan luas tanam jagung pada musim kemarau tahun ini mencapai sekitar 25 ribu hektare.
Angka tersebut lebih rendah dibanding potensi maksimal tahun 2025 yang mencapai 27.763,7 hektare. Penurunan proyeksi itu dipengaruhi masih masifnya program pemerintah untuk menjaga ketahanan pangan, terutama melalui peningkatan produksi padi.
”Potensi maksimal jagung di Jombang 2025 kurang lebih 27.763,7 hektare. Untuk musim kemarau tahun ini kami perkirakan sekitar 25 ribu hektare,” katanya.
Menurut Rony, sejumlah program seperti irigasi perpompaan (Irpom) dan optimasi lahan (Oplah) membuat petani tetap mempertahankan budidaya padi meski memasuki musim kemarau. ”Program padi masih cukup masif. Kemudian untuk mempertahankan ketahanan pangan juga masih diarahkan ke padi. Karena itu estimasi luas tanam jagung sekitar 25 ribu hektare,” imbuhnya.
Meski demikian, angka tersebut masih bisa berubah. Perkembangan cuaca dan kondisi jaringan irigasi menjadi faktor utama yang menentukan keputusan petani dalam memilih komoditas.
Jika kemarau berlangsung lebih panjang dan ketersediaan air menurun, luas tanam jagung berpotensi meningkat karena petani mulai beralih dari padi. Sebaliknya, jika pasokan air tetap terjaga, tanaman padi masih menjadi pilihan.
”Semuanya masih melihat perkembangan cuaca dan kondisi irigasi di masing-masing wilayah. Kalau kemarau cukup panjang, luas tanam jagung masih mungkin bertambah,” ujarnya.
Berdasarkan realisasi 2025, sentra jagung terbesar berada di Kecamatan Mojowarno dengan luas tanam mencapai 2.907 hektare. Kemudian disusul Ngoro 2.697 hektare, Wonosalam 2.246 hektare, Jogoroto 2.081 hektare, Bareng 2.060 hektare, Diwek 2.037 hektare, Gudo 1.923 hektare, dan Kabuh sekitar 1.892 hektare.
Disperta Jombang memastikan pemantauan terhadap kondisi musim kemarau dan jaringan irigasi terus dilakukan. Data tersebut akan menjadi bahan evaluasi untuk melihat perkembangan luas tanam jagung hingga akhir musim tanam. ”Ini sebagai dasar evaluasi proyeksi luas tanam jagung hingga akhir musim tanam nanti,” katanya. (fid/naz)
Editor : Anggi Fridianto