Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Anomali Cuaca di Jombang Bikin Petani Resah, Hama Wereng Mulai Muncul

Ainul Hafidz • Senin, 29 Juni 2026 | 06:53 WIB
Petani di Desa Watugaluh, Kecamatan Diwek, M Eko, mulai menyemprot tanaman padinya meski belum ada serangan wereng.
Petani di Desa Watugaluh, Kecamatan Diwek, M Eko, mulai menyemprot tanaman padinya meski belum ada serangan wereng.

 

JOMBANG - Hujan yang masih turun di tengah musim kemarau membuat petani di Kabupaten Jombang meningkatkan kewaspadaan terhadap serangan hama wereng. Cuaca yang berubah-ubah dinilai memicu meningkatnya potensi serangan organisme pengganggu tanaman (OPT).

Salah seorang petani di Desa Watugaluh, Kecamatan Diwek, M Eko, mengaku mulai menyemprot tanaman padinya meski belum ada serangan wereng. Langkah itu dilakukan sebagai upaya pencegahan sekaligus menambah nutrisi tanaman. ”Ini menyemprot untuk menambah nutrisi tanaman, sekaligus saya campur obat untuk wereng supaya tidak terkena serangan,” katanya.

Menurut Eko, pola cuaca yang tidak menentu membuat petani semakin waswas. Dalam beberapa pekan terakhir hujan masih sering turun, kemudian berganti panas pada siang hari. ”Cuacanya sekarang tidak tentu, kadang hujan, kadang panas. Biasanya kondisi seperti itu akan diikuti serangan wereng,” imbuhnya.

Baca Juga: Puluhan Hektare Sawah di Mojowarno Jombang Terancam Hama Wereng, Disperta Bilang Begini

Meski sawah miliknya belum terserang, wereng mulai ditemukan di wilayah sekitar, salah satunya di Desa Krembangan, Kecamatan Gudo. ”Di tetangga desa sudah ada yang kena. Makanya kami antisipasi sebelum menyerang tanaman di sini,” ujarnya.

Saat ini tanaman padi miliknya berumur sekitar 65 hari dan mulai memasuki fase pembentukan bulir. Pada fase tersebut, serangan wereng dikhawatirkan menurunkan produktivitas panen. ”Kalau sampai kena, bulir padinya bisa kosong, tidak ada bobotnya. Tanaman juga bisa garing,” tuturnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian (Disperta) Jombang M. Rony melalui Kepala Bidang Perlindungan, Pascapanen, dan Pemasaran Hasil Pertanian Akhmad Jani Masyhudi membenarkan anomali cuaca berpotensi meningkatkan serangan wereng maupun organisme pengganggu tanaman lainnya.

Menurutnya, berdasarkan informasi BMKG, saat ini terjadi anomali cuaca. Seharusnya wilayah Jombang telah memasuki musim kemarau, namun hujan masih sering turun. ”Menurut BMKG ini terjadi anomali. Harusnya sudah kemarau, tetapi masih turun hujan,” ujarnya.

Sebagai langkah antisipasi, Disperta telah menerbitkan surat peringatan kepada petani, penyuluh pertanian lapangan (PPL), kepala desa, dan pihak terkait agar meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak perubahan iklim.

Kami membuat surat peringatan kepada seluruh petani, petugas, kepala desa, dan PPL karena dimungkinkan terjadi peningkatan serangan OPT akibat perubahan iklim dan anomali cuaca,” katanya.

Ia menjelaskan, pola hujan pada malam hari yang disusul cuaca panas pada pagi hingga siang, kemudian kembali hujan pada malam hari menjadi kondisi yang mendukung perkembangan hama.

 ”Dulu desa memiliki anggaran untuk kebencanaan dan pengendalian hama melalui ketahanan pangan. Kami belum mengetahui apakah anggaran itu masih tersedia. Yang jelas kami sudah memberikan seruan agar petani waspada terhadap dampak anomali cuaca yang dapat meningkatkan potensi serangan hama," pungkasnya. (fid/naz)

 

Editor : Anggi Fridianto
#Anomali Cuaca #Petani Jombang #disperta jombang #Jombang #hama wereng