JOMBANG - WAYANG Topeng Jatiduwur tidak hanya menjadi kesenian lokal, tetapi juga bagian dari alur besar Sastra Panji yang menyebar hingga Asia Tenggara. Di Desa Jatiduwur, pertunjukan ini terus hidup sebagai warisan yang diwariskan turun-temurun. Di balik topeng dan gerak tari, tersimpan kisah klasik tentang Panji Inu Kertapati dan Dewi Sekartaji yang masih terus diceritakan hingga kini.
Pengelola Sanggar Wayang Topeng Tri Purwo Budaya Isma Hakim Rahmat mengatakan, seluruh lakon dalam Topeng Jatiduwur bersumber dari Sastra Panji. ”Cerita yang dipentaskan di Topeng Jatiduwur diambil dari Sastra Panji. Tokoh utamanya Panji Inu Kertapati dan Dewi Sekartaji,” ujarnya.
Menurut Hakim, kisah Panji berakar pada masa Kerajaan Kadiri dan Jenggala, yang kemudian berkembang menjadi berbagai cerita rakyat yang dikenal luas di masyarakat. ”Kalau ditarik dari akar ceritanya, latarnya pada masa Kadiri atau Jenggala. Dari situ berkembang menjadi banyak lakon yang dikenal masyarakat,” katanya.
Dari banyak lakon yang hidup dalam tradisi Jatiduwur, ada dua cerita yang paling sering dipentaskan. Pertama, Patah Kuda Narawangsa atau Sekartaji Kembar, yang mengisahkan perjalanan Dewi Sekartaji mencari jati diri sebelum kembali bertemu Panji. ”Dalam lakon Patah Kuda Narawangsa, Dewi Sekartaji digambarkan menjalani perjalanan panjang untuk menemukan jati dirinya,” jelasnya.
Lakon kedua adalah Wiruncana Murca, yang menyoroti perjuangan Panji Inu Kertapati dalam meraih cinta Dewi Sekartaji. “Kalau Wiruncana Murca lebih banyak menceritakan perjuangan Panji Inu Kertapati untuk mendapatkan cinta Dewi Sekartaji,” tuturnya.
Meski memiliki pakem cerita, Hakim menegaskan dalang tetap diberi ruang untuk berkreasi dalam penyajian, selama tidak keluar dari dasar cerita Panji. “Cerita yang dimainkan tidak hanya dua itu. Dalang bisa mengembangkan cerita sesuai kreativitas, tetapi tetap berpijak pada pakem Panji,” ujarnya.
Menurutnya, justru di titik itu Wayang Topeng Jatiduwur bertahan, tradisi tetap dijaga, tetapi tidak kaku terhadap zaman. ”Dalang punya peran penting. Bukan hanya mengatur jalannya pertunjukan, tetapi juga merangkai alur supaya tetap menarik dan bisa diterima penonton,” katanya.
Lebih jauh, Hakim menyebut Sastra Panji bukan hanya milik Jombang atau Jawa Timur. Jejaknya menyebar luas hingga berbagai daerah di Indonesia dan negara lain di Asia Tenggara. ”Sastra Panji ini bukan hanya milik Jombang. Di banyak daerah juga ada jejak ceritanya,” ungkapnya.
Bahkan, sejumlah cerita rakyat yang populer di Indonesia disebut memiliki keterkaitan dengan kisah Panji, seperti Golek Kencana, Ande-Ande Lumut, hingga Keong Mas. ”Kalau ditelusuri, banyak cerita rakyat yang sebenarnya punya hubungan dengan Panji,” terangnya.
Pengaruh itu juga melintasi batas negara. Kisah Panji berkembang dalam berbagai versi di Bali, Kalimantan, Malaysia, Thailand, Kamboja, Myanmar, hingga Filipina. ”Ini menunjukkan pengaruh budaya kita sangat luas. Panji tidak hanya hidup di Jawa, tapi juga dikenal di berbagai negara Asia Tenggara,” ujarnya.
Bagi Hakim, Wayang Topeng Jatiduwur menjadi bukti bahwa Jombang memiliki posisi penting dalam mata rantai sejarah budaya tersebut. Karena itu, pelestarian menjadi hal yang tidak bisa ditunda. ”Topeng Jatiduwur ini bukan hanya warisan masa lalu. Ini identitas budaya yang harus terus dirawat,” tegasnya.
Ia berharap generasi muda ikut terlibat agar tradisi ini tidak berhenti pada satu generasi saja. ”Harapannya anak-anak muda Jombang ikut mengenal, belajar, dan melestarikan. Kalau tidak dirawat bersama, warisan seperti ini bisa pelan-pelan hilang,” pungkasnya. (yan/naz)
Editor : Anggi Fridianto