JOMBANG – Kabupaten Jombang tak hanya identik dengan Ludruk dan Tari Remo. Sebuah kesenian wayang topeng bercerita panji juga dimiliki Jombang. Adalah Wayang Topeng Jatiduwur, kesenian yang lahir dan tumbuh di Desa Jatiduwur, Kecamatan Kesamben, dan tetap eksis di tengah perubahan zaman.
Pertunjukan wayang Topeng Jatiduwur berupa pementasan wayang orang dengan menggunakan topeng sebagai media pengenalan karakternya. Nama Jatiduwur dipakai karena wayang ini pertama kali dipentaskan dan bertahan di Desa Jatiduwur, Kecamatan Kesamben, Kabupaten Jombang. Bagi warga setempat, topeng-topeng itu bukan sekadar properti pentas, melainkan juga benda yang sarat nilai sejarah, spiritual, dan filosofi.
Pengelola Sanggar Wayang Topeng Tri Purwo Budaya Isma Hakim Rahmat mengatakan, Topeng Jatiduwur memiliki kekhasan yang membedakannya dari pertunjukan tari pada umumnya. Dalam pementasan, peran dalang menjadi pusat penggerak jalannya cerita. ”Proses pertunjukan ini hampir sama dengan pertunjukan wayang, karena ada seorang dalang yang mengatur jalan cerita selama pertunjukan berlangsung,” ujarnya, Sabtu (2/5).
Menurut Hakim, dalang tidak hanya menentukan alur cerita. Dalang juga membawakan catur atau narasi, dialog, sekaligus memberi aba-aba kepada para penari yang mengekspresikan karakter tokoh lewat gerak tubuh. ”Penari lebih banyak membawakan gerak sebagai ekspresi tokoh. Sementara narasi dan dialog tetap dibawakan dalang,” katanya.
Dia menuturkan, topeng-topeng yang digunakan dalam Wayang Topeng Jatiduwur diyakini merupakan warisan Ki Purwo, dalang pertama di desa tersebut. Hingga kini, koleksi topeng asli itu masih disimpan di rumah salah satu keturunan Ki Purwo. ”Topeng atau wayang ini konon dibuat oleh Ki Purwo. Sampai sekarang masih disimpan di rumah keturunannya dan perawatannya juga tetap dijaga,” terangnya.
Jumlah topeng yang diwariskan mencapai 33 buah. Di kalangan masyarakat, topeng-topeng itu dipercaya memiliki nilai sakral dan kekuatan magis. Karena itu, penyimpanannya pun tidak dilakukan sembarangan. ”Kalau menurut cerita yang berkembang di masyarakat, kalau topeng-topeng ini tidak ada yang mengurus, maka harus dikembalikan ke lokasi ringin atau punden tempat Ki Purwo dulu bertapa,” jelasnya.
Salah satu topeng yang paling dikenal masyarakat adalah Topeng Klono. Topeng berwarna emas itu menampilkan karakter priyayi sekaligus kesatria. Hakim menyebut, Topeng Klono memiliki posisi khusus di tengah masyarakat. ”Topeng Klono sering dijadikan sarana untuk mengobati penyakit warga. Karena itu perawatannya tidak bisa dilakukan secara sembarangan,” ungkapnya.
Dia menjelaskan, setiap selesai pementasan ada tata cara khusus dalam menyimpan topeng. Setelah dipakai, topeng harus dibungkus terlebih dahulu, dimasukkan ke dalam kotak sakral, kemudian diberi taburan bunga. ”Tidak langsung disimpan begitu saja. Ada prosesnya. Dibungkus, dimasukkan ke kotak, lalu ditaburi bunga,” katanya.
Karena nilai sakral yang masih dijaga, topeng asli hampir tidak pernah dipakai untuk latihan rutin. Para penari biasanya menggunakan topeng duplikasi. ”Kalau untuk latihan, biasanya memakai topeng pengganti. Topeng asli jarang dipakai supaya tetap terjaga,” ujarnya.
Hakim menambahkan, di masyarakat Jatiduwur, pertunjukan topeng kerap digelar sebagai bagian dari pemenuhan nazar. Warga yang memiliki hajat atau janji tertentu biasanya mengadakan pementasan. ”Topeng Jatiduwur ini umumnya digunakan sebagai media menepati nazar atau janji. Jadi biasanya ada warga yang punya hajat lalu menggelar pertunjukan,” jelasnya.
Dia juga melihat proses regenerasi mulai tumbuh. Jika dahulu penari topeng didominasi warga berusia di atas 50 tahun, kini pemuda dan pemudi desa mulai dilibatkan dalam pementasan. ”Sekarang sudah mulai ada regenerasi. Anak-anak muda sudah mulai ikut tampil, meski memang belum memegang peran penting dalam adegan tarian,” tuturnya.(yan/naz)
Editor : Anggi Fridianto