JOMBANG – Kebijakan efisiensi anggaran mulai membayangi pelaksanaan proyek rehabilitasi Bendung Jatimlerek senilai Rp 268,33 miliar. Salah satu tahap krusial proyek, yakni pembangunan kisdam (bendungan sementara) yang semula dipatok rampung September mendatang, berpotensi mengalami penyesuaian jadwal meski progres pekerjaan saat ini masih melampaui target.
Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Irigasi dan Rawa BBWS Brantas Agung Purnayudha mengatakan, penyesuaian jadwal dimungkinkan karena pihaknya masih menghitung dampak kebijakan efisiensi terhadap pelaksanaan proyek.
”Rencana awal cofferdam selesai September sampai Oktober. Tetapi, karena kondisi efisiensi anggaran, nanti akan kami cek lagi,” ujarnya usai sosialisasi di Balai Desa Jatimlerek, Kecamatan Plandaan, Jumat (30/5).
Menurutnya, cofferdam menjadi salah satu pekerjaan penting dalam proyek rehabilitasi Bendung Jatimlerek. Struktur sementara tersebut berfungsi mengalihkan aliran Sungai Brantas sehingga pekerjaan utama pembangunan bendung dapat dilakukan. Karena itu, saluran pengelak yang saat ini dikerjakan di Desa Sudimoro, Kecamatan Megaluh, belum bisa difungsikan sebelum pembangunan cofferdam selesai. “Saluran pengelak akan berfungsi setelah cofferdam selesai dibangun,” katanya.
Baca Juga: Kebocoran Bendung Jatimlerek Belum Teratasi, Arus Brantas Jadi Kendala Utama
Meski jadwal cofferdam masih dievaluasi, progres keseluruhan proyek disebut tetap berjalan sesuai rencana. Hingga akhir Mei, capaian pekerjaan telah mencapai 21,35 persen.
Menurut Agung, progres tersebut bahkan berada di atas target yang telah ditetapkan. Berdasarkan evaluasi terakhir, pekerjaan mengalami deviasi positif sekitar empat persen. ”Posisinya masih lebih cepat dari rencana. Deviasinya sekitar 4 persen,” tuturnya.
Saat ini pekerjaan masih didominasi pembangunan saluran pengelak di sisi selatan Sungai Brantas. Pantauan di lapangan, sejumlah alat berat melakukan pengerukan tanggul sungai serta pemasangan batu kali di beberapa titik lokasi proyek.
BBWS Brantas berharap pelaksanaan proyek tidak mengganggu aktivitas pertanian masyarakat, khususnya saat musim tanam berlangsung.
Sebab, rehabilitasi Bendung Jatimlerek diproyeksikan memberikan manfaat jangka panjang bagi sektor pertanian dan pengelolaan sumber daya air. ”Kami berharap masyarakat memahami karena pekerjaan ini untuk kepentingan jangka panjang, termasuk bagi para petani,” pungkasnya.
Sebagai informasi, proyek rehabilitasi Bendung Jatimlerek merupakan program Kementerian Pekerjaan Umum melalui BBWS Brantas. Pekerjaan dilaksanakan PT Wijaya Karya (Persero) Tbk dengan masa kontrak 720 hari. (fid/naz)
Editor : Anggi Fridianto