JOMBANG - Upaya penanganan darurat kerusakan pintu nomor enam Dam Karet Jatimlerek, Kecamatan Plandaan, belum membuahkan hasil. Uji coba pemasangan jumbo bag sebagai kisdam (tanggul sementara untuk menghalau air) gagal setelah material penyekat hanyut diterjang derasnya arus Sungai Brantas, Jumat (29/5).
Kepala Bidang Sumber Daya Air (SDA) Dinas PUPR Jombang Sultoni mengatakan, pemasangan jumbo bag sebenarnya sudah dilakukan. Namun, debit Sungai Brantas masih terlalu tinggi sehingga material tidak mampu bertahan. ”Pemasangan jumbo bag sebenarnya sudah dicoba, tetapi kondisi arus Sungai Brantas masih deras sehingga belum berhasil. Bahkan ada yang hanyut terbawa arus,” katanya.
Kondisi itu terungkap dalam sosialisasi penanganan kerusakan Dam Karet Jatimlerek yang digelar Dinas PU SDA Jawa Timur di Balai Desa Jatimlerek, Jumat (29/5). Pertemuan dihadiri perwakilan 13 desa, 17 Himpunan Petani Pemakai Air (HIPPA) dari Kecamatan Plandaan dan sebagian Ploso, BBWS Brantas, Dinas PUPR Jombang hingga PT Wijaya Karya (Wika).
Meski hampir seluruh pintu Dam Karet Jatimlerek telah dikempeskan maksimal, arus Sungai Brantas masih deras. Kondisi itu diduga dipengaruhi curah hujan di wilayah hulu sungai. ”Kalau debit air nanti lebih kecil kemungkinan bisa dipasang lagi. Mungkin di wilayah hulu masih turun hujan,” imbuhnya.
Dinas PUPR berharap penanganan kerusakan dapat rampung dalam dua hingga tiga minggu ke depan agar distribusi air irigasi kembali normal. Sebab, penghentian suplai air mulai memunculkan kekhawatiran petani di wilayah utara Sungai Brantas terhadap keberlangsungan tanaman mereka.
Meski begitu, Sultoni menyebut penghentian sementara aliran irigasi justru memberi dampak positif bagi sebagian lahan di kawasan hulu Desa Jatimlerek yang sebelumnya mengalami kelebihan air. ”Selama ini ada beberapa spot sawah yang terlalu banyak air sehingga tanaman cenderung merah karena kondisi asam. Dengan penghentian sementara justru tanaman lebih sehat, tetapi jangan terlalu lama. Idealnya tiga minggu sudah mengalir lagi,” ujarnya.
Baca Juga: Bendung Jatimlerek Bocor, Ribuan Hektare Sawah di Jombang Terancam Kekeringan
Saat ini petani masih terbantu hujan sehingga belum banyak menyampaikan keluhan. Namun jika penanganan molor, biaya operasional pertanian dipastikan meningkat. ”Kalau terlalu lama tentu kasihan petani karena biaya operasional terus bertambah,” katanya.
Sementara itu, Kades Purisemanding Nurbata meminta percepatan penanganan pintu dam yang rusak. Apalagi petani kini telah memasuki musim tanam kedua. ”Harapannya segera ada penanganan supaya saat musim kemarau tidak kekurangan air dan menyebabkan gagal panen,” ujarnya. Selain penanganan darurat menggunakan jumbo bag, dalam pertemuan tersebut juga dibahas proyek rehabilitasi Bendung Jatimlerek yang saat ini masih berlangsung.
Seperti diberitakan sebelumnya, pintu nomor enam Bendung Karet Jatimlerek mengalami kebocoran parah di tengah proyek rehabilitasi yang masih berjalan. Akibatnya, suplai air ke irigasi wilayah utara Sungai Brantas terhenti total. Sedikitnya 1.816 hektare sawah kini terancam kekeringan. Petani hanya bisa mengandalkan sumur pompa, namun hasilnya tidak maksimal.
Proyek rehabilitasi bendung senilai Rp 268,33 miliar hingga awal Mei belum menyentuh pembangunan struktur utama. Pekerjaan masih difokuskan pada penggalian saluran pengelak sementara di sisi selatan Sungai Brantas, Desa Sudimoro, Kecamatan Megaluh, serta pembangunan intake sementara di sisi utara. Program ini merupakan proyek Kementerian PUPR melalui BBWS Brantas, dengan pelaksana PT Wijaya Karya (Persero) Tbk. Masa kontrak tercatat 720 hari, mulai 15 Desember 2025 hingga 4 Desember 2027. (fid/naz)
Editor : Anggi Fridianto