RadarJombang.id - Kerusakan pintu nomor enam Bendung Karet Jatimlerek, Kecamatan Plandaan, membuat petani di utara Sungai Brantas harus mencari jalan keluar.
Demi menyelamatkan tanaman padi yang sudah berusia sebulan, mereka rela merogoh kocek hingga jutaan rupiah untuk membuat sumur bor.
Paijo, petani asal Desa Jatimlerek, mengaku terpaksa membuat sumur bor baru karena pasokan air irigasi dari bendung belum jelas kapan kembali normal.
Baca Juga: Pintu Dam Karet Jatimlerek Jebol, Penanganan Darurat Segera Dilakukan
”Ini buat sumur bor sendiri, baru sekarang bikin. Nunggu irigasi dari Dam Karet tidak jelas kapan,” katanya.
Langkah itu berdampak pada meningkatnya biaya operasional pertanian.
Paijo mengaku harus mengeluarkan uang sekitar Rp 1,2 juta untuk jasa pembuatan sumur bor, termasuk konsumsi pekerja dan pembelian pipa paralon.
”Sekitar Rp 1,2 juta sudah termasuk makan minum dan pipa paralon. Butuh sekitar empat pipa, tapi tergantung kedalamannya,” tuturnya.
Kini semakin banyak petani di kawasan tersebut yang mengandalkan sumur bor untuk mengairi sawah. Lahan milik Paijo sendiri memiliki luas sekitar 1.400 meter persegi.
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Jombang, M. Rony, menyebut wilayah utara Sungai Brantas saat ini bersiap tanam tembakau.
Namun, di sekitar Bendung Karet Jatimlerek masih ada petani yang menanam padi usai panen raya.
Terkait kerusakan bending yang berdampak pada mandeknya pasokan air, pihaknya mengaku belum menerima laporan resmi dampak terhadap irigasi pertanian.
”Terakhir koordinasi dengan pelaksana proyek, mereka memastikan walaupun ada pekerjaan, pasokan irigasi ke arah utara masih teraliri,” katanya.
Seperti diberitakan, pintu nomor enam Bendung Karet Jatimlerek jebol di tengah proyek rehabilitasi senilai Rp 268,33 miliar.
Akibatnya, aliran air menuju intake irigasi terhenti total dan mengancam sedikitnya 1.816 hektare sawah di wilayah utara Sungai Brantas. (15/5). (fid/naz)
Editor : Achmad RW