JOMBANG – Peternak ayam petelur di Kabupaten Jombang tengah menghadapi tekanan berat. Di saat harga pakan terus merangkak naik, harga jual telur di tingkat peternak justru turun tajam. Kondisi ini membuat margin usaha peternak makin menipis dan terancam merugi.
Salah satu peternak ayam petelur di Desa Mojotengah, Kecamatan Bareng, Eko Murdianto, mengaku kenaikan harga pakan terjadi dalam dua pekan terakhir. Sampai saat ini belum terlihat tanda-tanda harga kembali stabil.
Menurut dia, sebelumnya harga pakan ayam masih berada di kisaran Rp 6.800 sampai Rp 7.000 per kilogram. Namun kini harganya naik menjadi Rp 7.400 hingga Rp 7.800 per kilogram.
”Dalam dua pekan terakhir kenaikannya cukup tajam. Peternak sekarang kelimpungan karena biaya produksi naik cukup tinggi,” ujarnya.
Kenaikan harga pakan tersebut diperkirakan masih akan berlangsung hingga akhir Mei 2026. Kondisi itu membuat beban produksi peternak semakin berat.
Baca Juga: Harga Telur Anjlok, Tapi Harga Pakan Selangit, Peternak Ayam Petelur di Jombang Menjerit
Di sisi lain, harga telur di tingkat peternak justru mengalami penurunan. Sebelumnya, harga telur masih berada pada kisaran Rp 26.000 sampai Rp 27.000 per kilogram.
Kini turun menjadi sekitar Rp 22.000 hingga Rp 22.500 per kilogram. ”Kalau dulu masih bisa menutup biaya produksi, sekarang selisihnya semakin tipis. Bahkan ada peternak yang mulai merasakan kerugian,” katanya.
Eko menuturkan, turunnya harga telur terjadi di tengah pasokan yang melimpah di pasaran. “Ketersediaan telur di pasar cukup banyak. Tapi justru harganya turun. Kondisi ini yang paling memberatkan peternak,” ucapnya.
Para peternak berharap ada langkah konkret dari pemerintah maupun pihak terkait untuk membantu menstabilkan harga pakan. Terutama harga jagung yang menjadi salah satu bahan baku utama pakan ternak.
”Harapannya harga pakan segera stabil dan harga jagung bisa turun. Kalau kondisi ini terus berlangsung, peternak akan semakin tertekan,” tandasnya.(yan/naz)
Editor : Anggi Fridianto