Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Lika-liku Perjalanan Hariono, Pedagang Asongan Asal Jombang Menjemput Mimpi Haji Usai 29 Tahun Menabung

Anggi Fridianto • Selasa, 5 Mei 2026 | 05:45 WIB
ISTIQOMAH: Hariono, pedagang asongan asal Dusun Kapringan, Desa Dukuh Klopo, Kecamatan Peterongan menyiapkan barang untuk keberangkatan haji, Kamis (30/4).
ISTIQOMAH: Hariono, pedagang asongan asal Dusun Kapringan, Desa Dukuh Klopo, Kecamatan Peterongan menyiapkan barang untuk keberangkatan haji, Kamis (30/4).

 

 

 JOMBANG - Dari total 1.267 jemaah haji yang akan berangkat tahun ini, ada nama Teman Hariono, 51, pedagang asongan yang akan berangkat bersama istri, Jumilah, 50.

Sehari-hari, pria asal Dusun Kapringan, Desa Dukuh Klopo, Kecamatan Peterongan itu memanggul tas berjualan aneka kebutuhan seperti tisu, makanan ringan dan minuman. Dari terminal Kepuhsari, hajatan di kampung-kampung, hingga pentas yang digelar warga, semua dia jalani tanpa lelah untuk mengumpulkan rupiah.

Rutinitas itu bukan sekadar untuk memenuhi kebutuhan hidup. Di balik langkahnya, ada mimpi besar yang terus ia rawat sejak lama untuk berangkat ke Tanah Suci.

Dia  membuktikan mimpi bisa tumbuh dari usaha kecil yang dilakukan tanpa henti. Setelah 29 tahun menabung dari hasil berjualan asongan, keduanya dijadwalkan berangkat haji 6 Mei.

Baca Juga: CJH Wajib Tahu! Ini Barang yang Tak Boleh Dibawa Saat Ibadah Haji

Perjalanan panjang itu dimulai jauh sebelum ia berkeluarga. Sejak 1988, Hariono sudah terbiasa berjualan keliling. Dari bus AKDP hingga AKAP, mengikuti pengajian dari kampung ke kampung, hingga mendatangi pentas seni seperti jaranan dan reog.

”Yang penting halal dan bisa menyisihkan sedikit demi sedikit," ucapnya saat ditemui di kediamannya, Kamis, (30/4).

Setelah menikah pada 1997, perjuangan itu dilanjutkan bersama istri. Keduanya saling menguatkan di tengah penghasilan yang tidak menentu. Dalam sehari, pendapatan Hariono hanya sekitar Rp 35 ribu. Bahkan saat sepi hanya mendapat beberapa rupiah saja.

Namun, keterbatasan tidak menghentikan langkahnya. Seiring waktu, penghasilan itu perlahan meningkat hingga sekitar Rp 300 ribu per hari. Prinsipnya sederhana, di mana ada keramaian, di situ ada peluang.

Tak jarang, ia harus bepergian jauh hingga ke luar kota seperti Jepara demi mencari tambahan rezeki. ”Kadang harus pergi jauh, tapi saya jalani saja. Yang penting ada hasil untuk keluarga dan tabungan haji," ungkapnya.

Meski penghasilan tak menentu, keduanya tetap disiplin menabung. Tidak ada nominal khusus. Kadang Rp 10 ribu, Rp 20 ribu, bahkan Rp 100 ribu saat ada lebih.

Baca Juga: Binrohtal Polres Jombang, Panggilan Haji

”Tidak harus banyak, yang penting rutin. Lama-lama terkumpul juga," katanya.

Kesabaran itu mulai berbuah pada 2012 saat mereka berhasil mendaftarkan diri sebagai calon jemaah haji. Namun, penantian belum usai. Lebih dari satu dekade mereka menunggu kepastian keberangkatan.

Hingga akhirnya, tahun 2026 ini menjadi jawaban dari doa panjangnya. Wajah haru tak bisa disembunyikan saat Hariono menceritakan kisahnya. ”Alhamdulillah, tidak menyangka bisa sampai di titik ini," ungkapnya. (ang/jif)

(jif)

 

Editor : Anggi Fridianto
#hariono #kemenhaj 2026 #haji #Jombang #pedagang asongan