Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Dampak Cuaca Ekstrem, Luas Tanam Semangka di Watudakon Jombang Susut

Ainul Hafidz • Senin, 27 April 2026 | 04:14 WIB
DIRAWAT: Petani di Desa Watudakon, Kecamatan Kesamben merawat tanaman semangka.
DIRAWAT: Petani di Desa Watudakon, Kecamatan Kesamben merawat tanaman semangka.

 

JOMBANG – Cuaca yang tak menentu membuat petani di Desa Watudakon, Kecamatan Kesamben, diliputi kekhawatiran. Kondisi ini berdampak langsung pada penyusutan luas tanam semangka dibanding tahun sebelumnya.

Salah seorang petani, Hakim, mengaku saat ini tanaman semangka miliknya masih dalam tahap awal pertumbuhan dan belum berbunga.

Meski sudah mulai tanam, rasa waswas tetap menghantui akibat potensi banjir. ”Ini sudah tanam, tapi belum sampai muncul bunganya. Ya sedikit khawatir, karena di sini kalau hujan sering banjir,” katanya.

Hujan ringan sebenarnya tidak terlalu berdampak pada tanaman. Namun, ancaman utama justru datang dari luapan air sungai yang kerap membanjiri area persawahan.

 ”Kalau hujan saja masih aman, tidak sampai ke tanaman. Tapi kalau banjir dari sungai itu yang jadi masalah,” imbuhnya.

Belajar dari pengalaman tahun lalu, banyak petani kini berinisiatif membuat parit lebih dalam di lahan mereka untuk mengurangi risiko genangan air.

Pasalnya, banjir pada musim sebelumnya menyebabkan banyak tanaman gagal panen. ”Sekarang petani banyak yang bikin parit lebih dalam supaya menghindari banjir. Tahun lalu banyak yang gagal karena banjir,” ujarnya.

Sementara itu, Kades Watudakon Suharto membenarkan luas tanam semangka tahun ini mengalami penyusutan. Dari sebelumnya lebih dari 60 hektare, kini hanya sekitar 30 hektare yang ditanami semangka. ”Sekarang hanya sekitar 30 hektare, tersebar di tiga dusun, Dusun Jerukwangi, Rembukwangi, dan Watudakon. Sisanya ditanami padi,” katanya.

Baca Juga: Petani Buah Jombang Merugi Besar! Semangka dan Blewah Gagal Panen Akibat Hujan Deras

Susutnya dipengaruhi trauma petani akibat banjir tahun lalu yang menyebabkan gagal panen. Selain itu, sebagian petani memilih kembali menanam padi karena dinilai lebih aman dalam kondisi cuaca saat ini.

”Petani masih trauma banjir tahun lalu. Ada juga yang beralih ke padi karena khawatir kejadian serupa terulang,” ujarnya.

Meski demikian, ia menyebut sebagian tanaman semangka, khususnya di wilayah timur Dusun Rembukwangi, diperkirakan dapat dipanen sekitar satu bulan ke depan.

Terkait kondisi cuaca, Suharto menilai hujan masih relatif aman selama tidak memicu banjir. Kekhawatiran terbesar tetap pada luapan air dari Afvoer Watudakon yang kerap menggenangi lahan pertanian.

”Kalau hujan tiga hari sekali dan tidak banjir, Inys Allah aman. Yang dikhawatirkan itu kalau banjir, karena airnya dari luberan Afvoer Watudakon,” katanya. 

Baca Juga: Diguyur Hujan Lebat, Petani Semangka di Jombang Merugi Akibat Tanaman Mati Terendam Banjir

Sementara itu, Kepala Bidang Produksi Tanaman Pangan, Perkebunan dan Holtikulturan Dinas Pertanian (Disperta) Jombang Budi Santoso mengakui, saat ini petani lebih banyak menanam padi. ”Iya, soalnya sekarang kecenderungan padi semua. Sementara LTT (luas tambah tanam) program pemerintah ini tanam padi,” katanya.

Meski demikian, usai panen raya padi diprediksi masih ada yang tanam diluar tanaman padi. ”Sementara kami belum mendata. Karena program swasembada pangan ini gencar, jadi petani diminta untuk tanam padi,” ujarnya. (fid/naz)

Editor : Anggi Fridianto
#petani semangka #dampak cuaca #Kecamatan Kesamben #Jombang