Radarjombang.id - Proyek rehabilitasi Bendung Jatimlerek di Kecamatan Plandaan senilai Rp 264 miliar menjadi sorotan di tengah ancaman kemarau 2026. Selain prediksi terjadinya El Nino oleh BMKG, perbaikan infrastruktur irigasi tersebut berpotensi memperparah kekeringan dan mengganggu musim tanam ketiga di sejumlah wilayah.
Dinas Pertanian (Disperta) Kabupaten Jombang mulai mewaspadai dampak ganda tersebut. Berdasarkan prakiraan BMKG, El Nino diperkirakan terjadi pada pertengahan tahun dengan intensitas lemah. Namun, penurunan curah hujan hingga 20–40 persen tetap dinilai berisiko bagi sektor pertanian.
Baca Juga: Kemarau Panjang, 6 Desa di Jombang Waspada Kekeringan
Kabid Perlindungan Pascapanen dan Pemasaran Hasil Pertanian Disperta Jombang Ahmad Jani Masyhudi menjelaskan, puncak kemarau diprediksi berlangsung Juli hingga September 2026. Periode itu beririsan dengan pelaksanaan rehabilitasi Bendung Jatimlerek serta perbaikan saluran irigasi Mrican Kanan yang dijadwalkan Agustus–September. ”Untuk wilayah terdampak rehab irigasi, kami rekomendasikan tidak menanam padi pada musim tanam ketiga,” ujarnya.
Menurut dia, kondisi tersebut berpotensi memukul ribuan hektare lahan pertanian yang bergantung pada pasokan air irigasi. Sejumlah kecamatan yang diperkirakan terdampak antara lain Bandar Kedungmulyo, Megaluh, sebagian Tembelang, Peterongan, hingga Kesamben.
Tak hanya itu, daerah irigasi Siman yang mengairi lahan di 12 kecamatan juga masuk dalam perhatian karena ketergantungan tinggi terhadap distribusi air. ”Jika pasokan terganggu, risiko kekeringan dan gagal panen semakin besar,” bebernya.
Belajar dari tahun sebelumnya, kekeringan sempat melanda wilayah Sumobito, Peterongan, Perak, hingga Gudo. Bahkan, sebagian lahan mengalami puso atau gagal panen.
Sebagai langkah antisipasi, Disperta mendorong percepatan tanam selama masih tersedia air hujan, optimalisasi embung dan waduk, serta penyediaan pompa dan sumur air. Petani juga diminta menyesuaikan pola tanam dan menggunakan varietas padi tahan kekeringan. ”Koordinasi dengan kementerian, pemprov, hingga instansi teknis terus kami lakukan. Harapannya, dampak kekeringan bisa ditekan,” pungkasnya.
Untuk diketahui, Bendung Karet Jatimlerek merupakan bendung karet pertama di Sungai Brantas. Bendung ini dibangun pada 1989 dan selesai pada 27 November 1992. Fungsinya sangat vital dalam mendukung sistem irigasi di wilayah utara Sungai Brantas dengan cakupan lahan sawah mencapai 1.818 hektare.
Proyek rehabilitasi Bendung Jatimlerek memiliki nilai kontrak terkoreksi sebesar Rp 264 miliar dan dikerjakan oleh PT Wijaya Karya (Persero) Tbk setelah melalui proses tender. Proyek itu, sedianya akan dilaksanakan dengan system multi years contract (MYC) yang dimulai di tahun 2025 dan ditargetkan rampung sepenuhnya di tahun 2027. Pengerjaan tahap awal sudah berjalan. Salah satunya membangun intake sementara untuk kebutuhan irigasi selama proyek berjalan. (yan/naz)
Editor : Anggi Fridianto