Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Inilah Mukti-Anik, Pasutri Tukang Es Campur Naik Haji dari Jombang dan Penantiannya Selama 23 Tahun

Azmy endiyana Zuhri • Minggu, 19 April 2026 | 06:42 WIB
Mukti Ali saat berjualan es campur di Sumbermulyo, Kecamatan Jogoroto yang mengantarkannya berangkat haji, (16/4). (Azmy Endiyana Z/Radar Jombang)
Mukti Ali saat berjualan es campur di Sumbermulyo, Kecamatan Jogoroto yang mengantarkannya berangkat haji, (16/4). (Azmy Endiyana Z/Radar Jombang)

RadarJombang.id - Kisah inspiratif datang dari pasangan suami istri penjual es campur asal Kabupaten Jombang.

Mukti Ali, 54, dan istrinya Anik ,60, warga Desa Sumbermulyo, Kecamatan Jogoroto Jombang, membuktikan bahwa kesabaran dan ketekunan berdagang selama 23 tahun mampu mengantarkan mereka ke Tanah Suci.

 Keduanya dipastikan akan berangkat haji tahun 2026 ini.

Baca Juga: Persiapan Haji Jombang Hampir Rampung, 1.270 Jemaah Siap Berangkat Mulai 6 Mei

Di balik derit roda gerobak tua yang saban hari menyusuri gang-gang di Desa Sumbermulyo, tersimpan kisah panjang tentang harapan yang tak pernah padam.

Panas matahari, hujan, hingga sepinya pembeli tak pernah benar-benar menghentikan langkah Mukti Ali dan Anik.

Selama 23 tahun, pasangan suami istri itu setia berjualan es campur keliling. Dari hasil berjualan itulah, keduanya kini bersiap menapakkan kaki di Tanah Suci.

Baca Juga: Perang Iran VS Amerika dan Israel Kian Memanas, Menteri Haji dan Umrah RI Ungkap Tahapan Haji Jalan Terus

Tahun 2026 menjadi jawaban dari doa-doa yang mereka rajut diam-diam, di sela hiruk pikuk kehidupan yang serba pas-pasan.

’’Alhamdulillah, kami diberi kesehatan dan dimampukan berangkat berdua. Rasanya seperti mimpi,’’ ucap Mukti Ali, dengan mata berkaca-kaca.

Gerobak yang didorongnya mungkin tampak biasa. Catnya mulai pudar, rodanya sesekali berdecit. Namun, di sanalah harapan mereka digantungkan. Setiap gelas es campur yang terjual bukan sekadar pelepas dahaga, melainkan setitik jalan menuju Baitullah.

Sebelum mendorong gerobak, Mukti pernah mengayuh becak. Hidup berpindah dari satu perjuangan ke perjuangan lain.

Penghasilan yang tak menentu membuatnya berpikir keras mencari jalan lain. Hingga akhirnya, bersama sang istri, ia memilih berdagang es campur.

Sejak saat itu, keduanya tak terpisahkan. Mukti mendorong gerobak, sementara Anik setia di sampingnya—menuang sirup, menyusun roti, melayani pembeli dengan senyum sederhana.

’’Tanpa istri, saya tidak akan kuat. Kami jalani bersama, susah senang,’’ kenangnya pelan.

Mereka hidup dalam kesederhanaan yang nyaris tanpa keluhan. Tidak ada utang, tidak ada ambisi berlebih.

Baca Juga: Seleksi Petugas Haji 2026 Dimulai, 22 ASN Jombang Ikut Bersaing di Tingkat Pusat

Bagi Mukti, bisa makan hari ini, keluarga tidak kekurangan, sudah lebih dari cukup. Namun, di balik itu semua, ada mimpi besar yang perlahan tumbuh.

Mimpi itu datang dari sesuatu yang tak disangka. Mukti kerap diminta memimpin talbiah dalam acara walimatul safar.

Setiap melantunkan kalimat suci itu, hatinya bergetar. Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan. Dari situlah niat itu bermula.

Ia lalu mengutarakan keinginan sederhana kepada istrinya: Menabung untuk berhaji. Tak ada rencana besar, hanya keyakinan kecil yang dijaga bersama.

Hari demi hari, mereka menyisihkan uang. Kadang hanya Rp10 ribu, kadang Rp20 ribu. Jumlah yang mungkin tak berarti bagi sebagian orang, tapi menjadi sangat berharga bagi mereka.

Setelah menabung 10 tahun, Mukti lebih dulu mendaftar haji pada 2012. Empat tahun kemudian, Anik menyusul. Penantian panjang itu akhirnya terjawab ketika nama mereka masuk dalam kuota haji reguler Kabupaten Jombang 2026. Keduanya akan berangkat haji pada 6 Mei.

’’Ini bukan hanya perjalanan ke Tanah Suci. Ini jawaban dari doa kami yang tidak pernah putus,’’ ujar Anik dengan suara bergetar.

Kini, di usia yang tak lagi muda, keduanya justru memulai perjalanan baru. Mereka mengikuti manasik haji, mempersiapkan fisik dan mental. Namun, satu hal tak berubah—Mukti tetap mendorong gerobaknya.

Baginya, bekerja adalah bagian dari ibadah.

’’Saya tetap jualan sampai berangkat. Kami ingin berangkat dengan tenang, tanpa utang. Yang penting niat kami lurus,’’ ungkapnya. (yan/jif)

 

Editor : Achmad RW
#tukang es campur #23 tahun #naik haji #Jombang #penantian