JOMBANG - Panen raya di kawasan utara Sungai Brantas membawa kabar menggembirakan bagi petani.
Harga gabah yang terus merangkak naik hingga menyentuh Rp 7.000 per kilogram membuat petani sumringah.
Sayangnya, sebagian petani mengaku produktivitas hasil panen merosot.
Suyanto, 50, petani asal Dusun/Desa Bangsri, Kecamatan Plandaan, merasakan langsung dampaknya.
Ia menyebut, hasil panen tahun ini jauh lebih menguntungkan dibanding musim sebelumnya.
”Sekarang malah cenderung naik, dari awalnya kemarin Rp 6.500, lalu Rp 6.600 per kilogram, sekarang bisa tembus Rp 7.000 per kilogram,” ujarnya.
Ia menerangkan, petani sekarang lebih banyak menggunakan mesin combine untuk panen.
Menurut dia, harga gabah hasil panen menggunakan mesin combine saat ini berada di kisaran Rp 6.600 hingga Rp 6.700 per kilogram.
Bahkan, dalam kondisi tertentu bisa menembus Rp 7.000 per kilogram.
”Kalau yang manual atau pakai mesin perontok sekitar Rp 6.300, karena kualitasnya turun, biasanya karena padinya ambruk,” ujarnya.
Meski harus mengeluarkan biaya operasional untuk mesin combine, Suyanto tetap mengaku puas. Ia menilai tren harga saat ini jauh lebih baik dibanding tahun-tahun sebelumnya.
”Ini sudah bagus dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Baca Juga: Jelang Panen Raya, Warga Kebonagung Ploso Gotong Royong Uruk Jalan Usaha Tani
Dulu panen raya paling tinggi Rp 6.400 sampai Rp 6.500,” ungkapnya.
Sebagian hasil panen langsung dijual ke tengkulak, sementara sisanya dibawa pulang untuk kebutuhan sendiri.
”Sebagian dijual, sebagian dibawa pulang,” imbuhnya.
Kondisi ini dibenarkan Kepala Dinas Pertanian Jombang M. Rony.
Ia menyebut wilayah utara Brantas memang tengah memasuki puncak panen raya. ”Puncaknya minggu ketiga April sampai minggu kedua Mei. Setelah itu panen mulai selesai,” katanya.
Dari pantauan dinas, harga gabah di tingkat petani saat ini tergolong tinggi.
Bahkan dalam dua hari terakhir, harga Gabah Kering Sawah (GKS) sudah berada di kisaran Rp 6.900 hingga Rp 7.000 per kilogram.
”Harga di lapangan masih luar biasa. Ini cukup baik bagi petani,” ujarnya.
Menurutnya, tingginya harga dipicu dominasi pembelian dari pihak swasta. Kondisi itu membuat harga bergerak di atas harga pembelian pemerintah.
”Swasta membeli di atas Rp 6.500 per kilogram, sehingga Bulog belum bergerak. Bulog dibatasi paling tinggi Rp 6.500,” ujarnya.
Meski petani tengah menikmati harga tinggi, kewaspadaan tetap diperlukan.
Terutama menghadapi musim tanam berikutnya yang berpotensi terkendala air.
”Kalau air tidak memungkinkan, untuk musim berikutnya kami arahkan tidak menanam padi dulu. Apalagi ada proyek Dam Karet Jatimlerek dan prediksi kemarau panjang,” ujarnya. (fid/naz)
Editor : Anggi Fridianto