Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Proyek Bendung Jatimlerek Rp 264 Miliar Bikin Masalah, Jalan Ploso–Munung Dikeruk Separo

Anggi Fridianto • Kamis, 9 April 2026 | 07:57 WIB
TERDAMPAK PROYEK: Jalan kabupaten ruas Ploso-Munung di Desa Jatimlerek, Kecamatan Plandaan mulai dikeruk
TERDAMPAK PROYEK: Jalan kabupaten ruas Ploso-Munung di Desa Jatimlerek, Kecamatan Plandaan mulai dikeruk

 

RadarJombang.id – Proyek rehabilitasi Bendung Jatimlerek senilai Rp 264 miliar memunculkan dampak di lapangan. Salah satunya, ruas jalan kabupaten Ploso–Munung di Desa Jatimlerek, Kecamatan Plandaan, yang kini dikeruk separo badan jalannya untuk pembangunan gorong-gorong sebagai intake (saluran pengambilan air) sementara untuk menjaga suplai irigasi.

Pantauan di lokasi, akses kendaraan hanya bisa melalui satu sisi. Sejumlah road barrier dipasang, sementara sisi lainnya sudah dibongkar menggunakan alat berat.

Kepala Desa Jatimlerek Jadi menjelaskan, pengerukan mulai dilakukan sejak Senin (6/4). Sistem pengerjaan dibuat bertahap agar akses warga tetap terbuka. ”Dikeruk separo, lalu langsung dicor. Bahkan dikebut sampai lembur. Jadi tetap bisa dilalui,” ujarnya.

Pengerukan dilakukan untuk pembangunan gorong-gorong sebagai intake (saluran pengambilan air) sementara. Intake ini dibutuhkan selama proses rehabilitasi bendung berlangsung.

 Pasalnya, intake lama yang berada di dekat bendung akan ditutup sementara. Dampaknya, aliran air dari Sungai Brantas ke jaringan irigasi terhenti jika tidak dibuat jalur alternatif. ”Ini sebagai solusi sementara. Kalau intake lama ditutup, air tidak bisa masuk. Maka dibuat intake baru untuk menjaga suplai irigasi,” jelasnya.

Jarak intake lama dengan intake sementara sekitar 150 meter. Keberadaan saluran darurat ini dinilai krusial, terutama menjelang musim tanam. Menurut Jadi, mayoritas petani di wilayah tersebut tetap bersiap menanam padi meski proyek berjalan. Ketersediaan air menjadi faktor penentu. ”Air dari Brantas ini mengairi sampai Ploso. Sekarang habis panen dan mau tanam lagi,” tambahnya.

Baca Juga: Kopdes Jatimlerek Jombang Terima Truk Mitsubishi Fuso untuk Operasional Koperasi

Sementara itu, Dinas PUPR Jombang memastikan proyek sudah melalui koordinasi lintas instansi. Kepala Bidang Sumber Daya Air Sultoni menyebut, Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas telah berkoordinasi dengan pemkab dan provinsi. ”Karena menyangkut irigasi dan jalan kabupaten, jadi melibatkan beberapa pihak, termasuk Bina Marga,” ujarnya.

Ia mengakui, pembangunan intake sementara memang berdampak pada infrastruktur jalan. Karena itu, penanganannya dilakukan bersamaan agar tidak mengganggu mobilitas terlalu lama.

Seperti diberitakan sebelumnya, proyek rehabilitasi Bendung Jatimlerek sendiri memiliki nilai kontrak Rp 264 miliar, bersumber dari APBN. Pekerjaan dilaksanakan oleh PT Wijaya Karya (Persero) Tbk.

Bendung karet di aliran Sungai Brantas itu dibangun sejak 1989 dan rampung pada 1992. Infrastruktur tersebut menjadi salah satu penopang utama irigasi di wilayah utara sungai, dengan cakupan sekitar 1.818 hektare lahan pertanian. (fid/naz)

 

Editor : Anggi Fridianto
#Kecamatan Plandaan #desa jatimlerek #proyek bendung jatimlerek #BBWS Brantas #Jombang