Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Nyepi dan Lebaran Berdekatan, Kampung di Jombang Ini Tunjukkan Toleransi Luar Biasa

Ainul Hafidz • Rabu, 25 Maret 2026 | 06:03 WIB

Peringatan Hari Raya Nyepi di Dusun Ngepeh, Desa Rejoagung, Kecamatan Ngoro, berlangsung penuh toleransi
Peringatan Hari Raya Nyepi di Dusun Ngepeh, Desa Rejoagung, Kecamatan Ngoro, berlangsung penuh toleransi

 

JOMBANG – Peringatan hari besar keagamaan di Dusun Ngepeh, Desa Rejoagung, Kecamatan Ngoro, berlangsung penuh toleransi. Tahun ini terasa istimewa, karena Hari Raya Nyepi dan Idul Fitri jatuh dalam waktu yang berdekatan.

Nyepi diperingati Kamis (19/3), sementara Lebaran jatuh pada Sabtu (21/3). Ini menjadi tahun kedua bagi warga yang dikenal sebagai kampung toleransi merayakan hari besar keagamaan dengan jeda waktu yang singkat.

’’Warga lintas agama sudah memiliki kesepakatan bersama untuk menjaga keharmonisan,’’ kata Kepala Desa Rejoagung, Ahmad Kasani.

Awalnya terdapat antisipasi karena Lebaran diperkirakan jatuh pada Jumat (20/3). Artinya, malam takbir berlangsung pada Kamis (19/3) malam, bertepatan dengan peringatan Nyepi.

Sebagai bentuk toleransi, warga yang menggelar takbir keliling diminta mematikan pengeras suara saat melintas di sekitar rumah umat Hindu atau di kawasan Pura Amerta Buana.

”Sudah ada kesepakatan, kalau takbir keliling di dekat rumah warga yang Nyepi atau sekitar pura, sound dimatikan. Saling menghargai,” imbuhnya.

Namun, setelah pemerintah menetapkan Lebaran jatuh pada Sabtu (21/3), takbir keliling pun berlangsung pada Jumat (20/3) malam. Meski demikian, pengaturan tetap dilakukan, termasuk saat pelaksanaan salat tarawih.

”Untuk tarawih Kamis (19/3), waktunya kami batasi dan tidak menggunakan pengeras suara luar. Cukup di dalam masjid atau musala. Jadi tidak pakai toa,” ungkapnya.

Saat Hari Raya Idul Fitri, suasana kebersamaan tampak kental. Warga lintas agama saling berkunjung dan bersilaturahmi tanpa sekat.

Alhamdulillah berjalan lancar. Masyarakat saling mengunjungi, baik yang Muslim, Kristen maupun Hindu,” tuturnya.

Diharapkan, kerukunan tersebut terus terjaga dan menjadi contoh moderasi beragama di tengah masyarakat.

Baca Juga: Lebaran Berdekatan dengan Nyepi, Pemkab Jombang Siapkan Pengamanan Ketat dan Layanan Mudik Lengkap

”Kami ingin kerukunan tetap terjaga. Saling menghormati dan menghargai. Seperti kampung tiga warna atau keluarga pelangi, harmoni antar-umat beragama benar-benar terjaga,” ungkapnya.

Dusun Ngepeh memiliki 12 tempat ibadah yang letaknya saling berdekatan. Rinciannya, satu masjid, delapan musala, dua gereja, dan satu pura.

Pura Amerta Bhuana hanya berjarak sekitar 10 meter dari Gereja Pantekosta Indonesia (GPdI) Sejahtera dan sekitar 100 meter dari Masjid Quba’. Ini menjadi simbol nyata kedekatan dan kerukunan antar-umat beragama. (fid/jif)

 

Editor : Anggi Fridianto
#Ngepeh #Desa Rejoagung #Jombang #kecamatan ngoro #Beda agama #umat hindu #Lebaran