Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Rekor Baru! LTT Padi Jombang Capai 86.701 Hektare, Lampaui Target Nasional

Ainul Hafidz • Jumat, 20 Februari 2026 | 21:51 WIB

Bupati Jombang Warsubi saat menbuka kegiatan Luas Tambah Tanam (LTT) padi tahun 2025
Bupati Jombang Warsubi saat menbuka kegiatan Luas Tambah Tanam (LTT) padi tahun 2025

JOMBANG – Satu tahun kepemimpinan Warsubi–Salman, sektor pertanian Kabupaten Jombang mencatat rekor baru.

Luas Tambah Tanam (LTT) padi tahun 2025 mencapai 86.701 hektar, tertinggi sepanjang sejarah dan melampaui target pemerintah pusat sebesar 81.251 hektar.

Kepala Dinas Pertanian Jombang, Much Rony, menegaskan capaian tersebut tidak lepas dari sinergi kebijakan pusat dan daerah.

”Ini adalah LTT padi terbesar sepanjang sejarah Jombang. Artinya semangat petani luar biasa dan program pemerintah berjalan efektif,” ujarnya.

Program Optimasi Lahan (Oplah) seluas 3.311 hektar menjadi salah satu pengungkit utama. Melalui dukungan irigasi perpompaan dan sarana produksi, indeks pertanaman (IP) padi meningkat dari satu kali menjadi dua bahkan tiga kali tanam dalam setahun.

”Dengan Oplah, lahan yang sebelumnya satu kali tanam bisa dua sampai tiga kali. Dampaknya langsung ke peningkatan produksi,” kata Rony.

Dukungan tambahan pupuk bersubsidi, penurunan harga pupuk, serta kebijakan Harga Pokok Pemerintah (HPP) gabah Rp 6.500 per kilogram juga memperkuat gairah petani.

”Dengan HPP Rp 6.500, petani punya kepastian harga. Ini membuat mereka semakin percaya diri menanam padi,” tegasnya.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) Jombang mencatat konsumsi beras 2025 sebesar 149.237 ton. Sementara produksi menunjukkan surplus 108.705 ton beras, naik signifikan dibanding 2024 yang surplus 49.342 ton. “Surplus ini bukan hanya angka. Ini bukti bahwa Jombang tetap menjadi lumbung pangan Jawa Timur bahkan nasional,” ujar Rony.

Selain itu, Dinas Pertanian membentuk 17 Brigade Pangan (BP), terbanyak di Jawa Timur. Kelompok pemuda tani ini difasilitasi traktor roda empat, combine harvester, drone pertanian, dan peningkatan kapasitas SDM. ”Kami ingin regenerasi petani berjalan. Anak muda harus melihat pertanian sebagai sektor modern dan menjanjikan,” pungkasnya. 

 

Terapkan Pertanian Ramah Lingkungan, Petani Dapat Perlindungan

DI balik lonjakan produksi padi 2025, Dinas Pertanian Kabupaten Jombang menegaskan komitmennya tidak hanya mengejar kuantitas, tetapi juga keberlanjutan dan perlindungan petani.

Kepala Dinas Pertanian Jombang, Much Rony, mengatakan pendekatan pertanian kini diarahkan pada sistem berkelanjutan melalui Budidaya Tanaman Sehat (BTS).

”Kami tidak ingin produksi meningkat dengan merusak lingkungan. BTS menekan biaya produksi sekaligus menjaga agroekosistem,” ujarnya.

Program BTS yang dicanangkan pada 10 April 2025 di Desa Kendalsari, Kecamatan Sumobito, kini berkembang menjadi 21 desa model di seluruh kecamatan dengan total luasan sekitar 100 hektar.

”BTS itu tidak membakar limbah, mengutamakan pupuk organik, pengendalian hama terpadu, serta pengelolaan air yang baik. Produksi tetap naik, tapi lebih sehat dan ramah lingkungan,” jelas Rony.

Perlindungan petani juga diperkuat melalui program Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP). Tahun 2025, luas lahan yang diasuransikan mencapai 973 hektar dengan 1.843 petani terdaftar. ”AUTP ini penting. Kalau terjadi gagal panen akibat banjir atau kekeringan, petani tidak sepenuhnya menanggung risiko sendiri,” katanya.

Saat ini, terdapat pengajuan klaim 32 hektar akibat banjir di Desa Jatigedong. Selain itu, bantuan benih 6.325 kilogram disalurkan untuk lahan 253 hektar yang mengalami gagal panen meski tidak terdaftar AUTP.

Di sektor perkebunan, program bongkar ratoon tebu seluas 3.315 hektar dijalankan untuk mendukung swasembada gula nasional. Total produksi tebu mencapai 787.246 ton dengan rendemen rata-rata naik menjadi 7,11 persen.

”Produksi gula kristal putih setara 56.009 ton. Ini kontribusi nyata Jombang dalam mendukung swasembada gula,” ujar Rony.

Tak berhenti di sana, komoditas nilam juga dikembangkan melalui pola kemitraan dengan AFCO Group agar petani mendapat kepastian pasar. ”Kami ingin petani tidak hanya kuat di hulu, tapi juga di hilir. Ada pasar yang jelas, ada nilai tambah,” tegasnya.

Rony memastikan, hingga 2029 seluruh program tetap mengacu pada Asta Cita dan RPJMD Kabupaten Jombang. ”Tujuan akhirnya bukan hanya swasembada pangan, tetapi kesejahteraan petani yang berkelanjutan,” pungkasnya. (riz/naz)

Editor : Anggi Fridianto
#gerakan tanam #Warsubi #Bupati Jombang #Disperta #LTT2025 #Jombang