Radarjombang.id – Tingginya kebutuhan normalisasi sungai dan saluran irigasi di Kabupaten Jombang masih belum sepenuhnya terakomodir. Sepanjang 2025 lalu, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Jombang menerima 93 usulan normalisasi dari pemerintah desa. Namun belum seluruhnya berhasil ditangani.
’’Usulan dari desa sangat banyak. Tahun 2025 ada 93 permintaan normalisasi sungai dan saluran. Tapi yang bisa kami tangani baru sekitar 60 lokasi,’’ kata Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Jombang, Bayu Pancoroadi, melalui Kepala Bidang Sumber Daya Air (SDA) Sultoni, (8/1).
Masih ada puluhan usulan yang belum bisa dikerjakan. Hal itu disebabkan keterbatasan alat berat dan kapasitas penanganan di lapangan.
Setiap tahun permintaan normalisasi cenderung meningkat seiring dengan kondisi sungai dan saluran yang cepat mengalami pendangkalan maupun tersumbat material.
’’Setiap musim hujan pasti muncul sumbatan baru. Ada bambu, enceng gondok, kangkung, juga sedimentasi. Jadi kebutuhan normalisasi terus bertambah,’’ jelasnya.
Dari puluhan usulan yang belum tertangani, sebagian besar berada di wilayah rawan banjir. Namun, pihaknya terpaksa melakukan prioritas penanganan berdasarkan tingkat risiko dan dampak terhadap masyarakat.
’’Kami utamakan lokasi yang rawan banjir dan berdampak langsung ke permukiman warga serta lahan pertanian. Itu yang kami dahulukan,’’ tegasnya.
Memasuki 2026, PUPR Jombang menargetkan melanjutkan normalisasi di sekitar 50 sungai dan saluran irigasi. Beberapa pekerjaan sudah mulai dilakukan sejak awal tahun.
Di antaranya normalisasi saluran sekunder Menganto di Desa Tugusumberejo, Kecamatan Peterongan. Serta pembersihan sumbatan di Kali Marmoyo.
’’Untuk awal 2026 ini kami sudah mulai. Normalisasi di saluran Menganto kami lanjutkan, termasuk pembersihan sumbatan di Kali Marmoyo,’’ ungkapnya.
PUPR Jombang juga mulai memperbaiki jebolan tanggul di Desa Sumberagung, Kecamatan Perak. Perbaikan tanggul dinilai krusial karena berpotensi menimbulkan banjir jika tidak segera ditangani.
’’Perbaikan tanggul di Sumberagung sudah mulai kami kerjakan. Kalau tanggul jebol, dampaknya bisa meluas,’’ katanya.
Pekan depan, giliran Sungai Catakbanteng di Desa Betek, Kecamatan Mojoagung, yang akan dibersihkan dari sumbatan. Titik tersebut selama ini kerap menjadi langganan luapan air saat debit meningkat.
’’Di sekitar jembatan Catakbanteng sering terjadi penumpukan bambu dan sampah. Itu yang akan kami bersihkan,’’ imbuhnya.
PUPR Jombang juga menyiagakan petugas pengendali banjir, termasuk operator pintu air. Upaya ini dilakukan sebagai bagian dari langkah antisipasi menghadapi puncak musim hujan. ’’Personel tetap kami siagakan, terutama untuk pengoperasian pintu air pengendali banjir,’’ tegasnya.(yan/jif)
Editor : Anggi Fridianto