Radarjombang.id – Produksi jagung di Kabupaten Jombang sepanjang 2025 merosot dibandingkan tahun sebelumnya.
Data Dinas Pertanian mencatat, total produksi hanya 254.814,18 ton. Angka itu turun 16.805,38 ton dari capaian 2024 yang mencapai 271.619,56 ton.
”Produksi jagung memang mengalami penurunan.
Salah satu faktor utamanya karena sebagian lahan jagung beralih ke padi,” terang Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Jombang M Rony.
Ia menambahkan, penurunan produksi jagung tak lepas dari berkurangnya luas tanam. Tahun lalu, luas tanam jagung tercatat 31.288,72 hektare.
Padahal, pada 2024 mencapai 36.119,20 hektare. ”Artinya, ada pengurangan luas tanam mencapai 4.830,48 hektare,” terangnya.
Penurunan tersebut dipicu perubahan pola tanam petani. Sebagian memilih mengalihkan lahan jagung ke padi.
Fenomena iklim juga ikut berperan. Menurut Rony, kemarau basah membuat ketersediaan air relatif terjaga.
Kondisi itu mendorong petani menilai padi lebih aman dan menguntungkan. ”Dengan kondisi kemarau basah, petani melihat peluang tanam padi lebih besar dibandingkan jagung,” jelasnya.
Meski turun, jagung tetap menjadi komoditas penting di Jombang.
Produksi ratusan ribu ton per tahun masih menopang kebutuhan pangan dan bahan baku pakan ternak, baik lokal maupun luar daerah. ”Fluktuasi produksi wajar terjadi dalam sektor pertanian,” bebernya.
Perubahan iklim, pola tanam, serta pertimbangan ekonomi petani menjadi faktor utama yang memengaruhi capaian tiap tahun. Ke depan, pemerintah daerah mendorong pendampingan lebih intensif, termasuk pengaturan pola tanam adaptif terhadap cuaca.
”Kita juga berharap pemerintah melalui Bulog membeli hasil panen jagung petani,’’ pungkasnya. (ang/naz)
Editor : Anggi Fridianto