Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Jelang Nataru, Harga Cabai dan Ayam di Pasar Tradisional Jombang Melejit

Achmad RW • Selasa, 9 Desember 2025 | 14:11 WIB
Jelang perayaan Natal dan Tahun Baru (Nataru), harga pangan di pasar tradisional di Kabupaten Jombang mengalami lonjakan tajam.
Jelang perayaan Natal dan Tahun Baru (Nataru), harga pangan di pasar tradisional di Kabupaten Jombang mengalami lonjakan tajam.

Radarjombang.id - Jelang perayaan Natal dan Tahun Baru (Nataru), harga pangan di pasar tradisional di Kabupaten Jombang mengalami lonjakan tajam. Salah satu yang mencolok kenaikan harga cabai dan daging ayam. Kenaikan harga disinyalir faktor cuaca ekstrem hingga menjelang perayaan Nataru.

Kenaikan harga cabai di pasar tradisional di Kabupaten Jombang ini terjadi sejak dua pekan terakhir. Kenaikan signifikan terjadi pada harga cabai rawit merah. ”Cabai rawit yang super yang paling tinggi sampai Rp 100 ribu,” terang Heri, pedagang cabai di Pasar Pon.

Padahal, cabai rawit merah kualitas super itu sebelumnya sebelumnya dijual Rp 35 ribu per kg. Sedangkan cabai rawit kualitas sedang, dijual Rp 90 ribu. ”Kalau yang cabai petek atau yang cabai jelek ini ya lebih murah, Rp 30 ribu per kilogram,” lontarnya.

Tak hanya cabai rawit merah, cabai rawit hijau juga merangkak naik dari Rp 30 ribu menjadi Rp 80 ribu per kilogram. Kenaikan harga cabai lebih disebabkan faktor cuaca. Beberapa daerah sentra tanaman cabai banyak yang gagal panen akibat hujan dengan intensitas ekstrem. ”Dampaknya ke pembelian, biasanya sehari bisa 65 kilogram, sekarang jadi separonya,” imbuhnya.

Tak hanya cabai, harga daging ayam pun mengalami kenaikan. Kini, di Pasar Pon harga daging ayam telah menyentuh angka Rp 35.000 hingga Rp 36.000 per kilogram.

”Biasanya normal itu Rp 32.000–33.000 per kilo. Tapi kalau sudah dekat Natal dan tahun baru memang pasti naik,” ujar Dewi Nurkamaru, 51, pedagang daging ayam di Pasar Pon.

Selain karena siklus tahunan jelang Nataru, Dewi juga menyebut adanya program pemerintah Makan Bergizi Gratis (MBG) ditengara ikut mendorong kenaikan harga. Menurutnya, permintaan ayam dari berbagai sektor meningkat sehingga stok dari pemasok lebih cepat terserap. ”Ada program MBG itu juga. Jadi permintaan naik terus. Barang-barang lain juga ikut naik, akhirnya ayam juga ikut naik,” jelasnya.

Meski perayaan Natal masih beberapa minggu lagi, Dewi memprediksi harga saat ini sudah mendekati batas tertinggi untuk pasaran Jombang. Kendati demikian, ia menyebut tidak menutup kemungkinan harga akan kembali naik jika pasokan menipis.

”Kayaknya pasarnya kuatnya segitu (Rp 35–36 ribu). Tapi enggak tahu kalau nanti naik lagi. Tahun kemarin juga segitu. Paling tinggi itu pas hari raya, bisa sampai Rp 40 ribu kalau Lebaran, karena yang beli banyak,” ungkapnya.

Kenaikan harga ini berdampak langsung pada minat beli masyarakat. Dewi mengaku omzetnya mulai menurun karena banyak pelanggan yang mengurangi jumlah belanjaan.

”Ya tidak begitu ramai. Pembeli juga enggak berani beli banyak. Katanya uangnya harus dibagi-bagi karena semua harga naik, cabai dan yang lain-lain juga naik,” katanya. Dalam kondisi normal, ia bisa menghabiskan hingga 5 kuintal ayam pada hari paling ramai. Namun saat ini jumlah tersebut menurun cukup signifikan. ”Sekarang keluar barangnya sedikit, berkurang. Kecuali kalau ada pesanan khusus,” terangnya. (riz/naz)

Editor : Anggi Fridianto
#Harga Daging Ayam #Jombang #Harga Cabai #tahun baru #jelang natal