Radarjombang.id – Harga telur ayam ras di pasar tradisional Jombang belum menunjukkan tanda-tanda penurunan signifikan.
Di Pasar Pon Jombang, harga eceran masih bertengger di angka Rp 29.000 per kilogram. Padahal, harga normal biasanya berada di kisaran Rp 25.000–26.000.
Kondisi ini membuat Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jombang bergerak cepat.
Lewat Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagrin), pasar murah digelar di sejumlah titik sebagai bentuk intervensi harga.
”Memang ada sedikit kenaikan harga telur di pasar. Karena itu, kami adakan kegiatan pasar murah termasuk menjual bahan pokok telur dengan harga lebih murah,” ujar Kepala Bidang Sarana Perdagangan dan Barang Pokok Penting Yustinus Harris Eko Prasetijo, kemarin.
Pasar murah digelar di beberapa lokasi. Di antaranya Desa Jenisgelaran, Kecamatan Bareng, dan Kecamatan Perak. Telur ayam dijual Rp 27.000 per kilogram, lebih rendah dari harga pasar.
Namun, pantauan Radar Jombang menunjukkan harga di lapangan masih tinggi. Di Pasar Pon, harga telur sempat menyentuh Rp 29.500 per kilogram.
”Harga minggu lalu itu sekitar Rp 28.500, naik jadi Rp 29.000, terus naik lagi Rp 29.500, baru hari ini turun sedikit. Tapi ini masih tergolong mahal,” ujar Akhmad Nazim, 52, pedagang telur.
Harga grosir pun tak jauh berbeda. Di Pasar Pon, berada di kisaran Rp 27.000–27.500 per kilogram.
Sementara di Pasar Ploso, harga tertinggi tercatat Rp 30.000 per kilogram berdasarkan data Siskaperbapo.
Pemkab berharap pasar murah bisa menjaga daya beli masyarakat menjelang akhir tahun. ”Ini menjadi salah satu upaya pemerintah untuk menjaga kestabilan harga,” imbuh Harris. (fid/naz)
Editor : Anggi Fridianto