Radarjombang.id – Pemkab Jombang melalui Dinas Pertanian (Disperta) terus memperkuat sinergi dan kolaborasi mendukung target besar pemerintah pusat mencapai swasembada pangan nasional.
Target tersebut merupakan bagian dari Asta Cita kedua pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Yakni memantapkan sistem pertahanan dan kemandirian bangsa melalui swasembada pangan, energi, air, serta penguatan ekonomi kreatif, ekonomi hijau, dan ekonomi biru.
Kepala Disperta Jombang Ir Moch Rony MM menjelaskan, pihaknya siap mengambil bagian aktif dalam menyukseskan agenda nasional itu. Salah satu langkah konkret yang dilakukan dengan meningkatkan luas tanam padi secara signifikan. ”Tahun-tahun sebelumnya rata-rata luas tanam padi di Jombang hanya sekitar 72.000 hektare, maka pada 2025 ditargetkan mencapai 81.251 hektare,” kata Rony.
Target itu merupakan terluas selama ini. ”Ini merupakan target terbesar sepanjang sejarah. Meski ambisius, kami optimistis target ini bisa tercapai karena kita menjalankan berbagai program pendukung, seperti optimasi lahan (oplah) dan bantuan irigasi perpompaan (irpom),” imbuh dia.
Optimistis tersebut juga didukung kebijakan nasional terkait penetapan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) untuk gabah sebesar Rp 6.500 per kilogram.
Harga ini memberikan insentif yang cukup bagi petani untuk lebih bersemangat dalam menanam padi. ”Kebijakan HPP ini sangat membantu meningkatkan motivasi petani. Jika semangat petani meningkat, otomatis produktivitas dan luas tanam juga akan naik. Ini menjadi salah satu kunci keberhasilan menuju swasembada pangan,” imbuhnya.
Disperta Jombang juga terus mendorong kolaborasi dengan berbagai stakeholder. Mulai dari kelompok tani, penyuluh pertanian, hingga instansi terkait untuk memastikan semua program berjalan efektif dan efisien di lapangan.
Dengan langkah-langkah strategis yang dilakukan, Jombang menegaskan komitmen untuk menjadi bagian penting dalam mewujudkan ketahanan pangan nasional yang berkelanjutan. Indonesia tercatat sebagai salah satu negara pengimpor beras terbesar di dunia. Swasembada beras terakhir kali dicapai pada 1984, dan kini pemerintah kembali mengusung cita-cita besar tersebut untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor beras.
Disperta Bentuk Brigade Pangan
Siapkan Petani Muda Jadi Motor Pertanian Modern
SEMENTARA itu, dunia pertanian di Indonesia tengah menghadapi tantangan serius. Salah satunya ketersediaan tenaga kerja muda di sektor ini. Dinas Pertanian (Disperta) Jombang mengambil langkah strategis, dengan membentuk kader muda pertanian atau Brigade Pangan (BP).
Kepala Disperta Jombang Ir Moch Rony menjelaskan, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) 2023, mayoritas petani di Indonesia berada dalam rentang usia tua. Petani usia 43–58 tahun mendominasi dengan persentase 42,39 persen. Disusul petani usia 59–77 tahun sebanyak 27,61 persen. Sementara itu, petani usia produktif 27–42 tahun hanya 25,61 persen.
Tak hanya dari sisi usia, kualitas pendidikan juga menjadi perhatian. Sekitar 70 persen petani Indonesia hanya mengenyam pendidikan hingga tingkat sekolah dasar. Kondisi ini menggambarkan tantangan berat dalam modernisasi pertanian dan peningkatan produktivitas.
Merespons persoalan tersebut, Disperta Jombang sudah membentuk Brigade Pangan. Mereka merupakan para pemuda tani berusia sekitar 30–39 tahun.
Dibekali manajemen usaha tani modern dan ditugaskan menjadi motor penggerak pertanian maju di Jombang.
”Saat ini sudah selesai proses pembentukannya. Sudah terbentuk 17 Brigade Pangan, dan Jombang termasuk paling progresif dalam program ini,” ujar Rony.
Brigade Pangan akan dilengkapi dengan alat dan mesin pertanian (alsintan) modern. Model kerja mereka berbasis kemitraan usaha yang saling menguntungkan antara Brigade Pangan dan petani. Harapannya, BP bisa mempercepat adopsi teknologi pertanian modern serta meningkatkan efisiensi produksi.
”Sekarang kami sedang dalam tahap pembinaan intensif untuk menemukan pola kerja paling efektif,” imbuh dia.
Langkah inovatif ini tidak hanya menjawab kebutuhan regenerasi petani. Tetapi juga menjadi fondasi kuat menuju pertanian berkelanjutan yang lebih maju dan berdaya saing. Dengan keberadaan Brigade Pangan, Jombang menegaskan komitmennya untuk menjadi pelopor pertanian modern di Jawa Timur. ”Kami juga tengah mengupayakan kelengkapan alsintan bagi tiap Brigade Pangan agar mereka siap bekerja secara optimal di lapangan,” kata Rony.
Disperta Kembangkan Budidaya Tanaman Sehat
Atasi Dampak Perubahan Iklim dan Penurunan Kesuburan Lahan
PEMBANGUNAN sektor pertanian saat ini menghadapi tantangan besar, salah satunya akibat Dampak Perubahan Iklim (DPI) yang semakin nyata dirasakan para petani.
DPI menyebabkan peningkatan potensi banjir dan kekeringan, serta memperbesar risiko serangan hama dan penyakit tanaman. Ditambah lagi, kesuburan lahan pertanian terus menurun akibat budi daya intensif dan penggunaan bahan kimia yang berlebihan.
Kepala Disperta Jombang Ir Moch Rony MM menjelaskan, kondisi ini berdampak langsung pada peningkatan biaya usaha tani.
”Belanja untuk pupuk, pestisida, herbisida, dan tenaga kerja semakin tinggi. Ini tentu menjadi beban berat bagi petani kita,” ujarnya.
Karena itu, Disperta Jombang saat ini tengah mengembangkan pendekatan Budidaya Tanaman Sehat (BTS). Sistem pertanian ini menekankan keberlanjutan dengan menjaga kesehatan tanah, lingkungan, dan tanaman.
BTS dilakukan sejak awal, jauh sebelum budi daya dimulai, melalui praktik-praktik yang ramah lingkungan. ”Dalam BTS, petani tidak membakar limbah pertanian. Mereka mengembalikan bahan organik ke tanah, menambahkan penyubur alami dari bahan lokal, melestarikan musuh alami hama, menggunakan pupuk organik, dan hanya menggunakan bahan kimia sebagai alternatif terakhir, jika hasil pengamatan menyatakan perlu,” imbuh dia.
Sistem budi daya yang akan didukung pemerintah daerah harus memenuhi tiga indikator utama. Efisiensi, produktivitas, dan ramah lingkungan.
Menurutnya, BTS mampu memenuhi ketiganya. Ini dibuktikan melalui serangkaian uji coba yang telah dilakukan di sejumlah lokasi. ”Alhamdulillah, hasil uji coba BTS menunjukkan hasil menggembirakan. Biaya produksi bisa ditekan, penggunaan pupuk kimia terutama urea menurun, herbisida untuk pengendalian gulma bisa dikurangi, dan hasil produksi tetap optimal,” ujar Rony.
Uji coba BTS secara intensif dilakukan di Desa Kendalsari, Kecamatan Sumobito dengan luas lahan 25 hektare. Di lokasi ini, petani sudah mampu memproduksi sendiri pupuk organik dan agen pengendali hayati, serta mengendalikan gulma tanpa ketergantungan pada herbisida.
Penerapan juga dicoba di Desa Ngumpul, Kecamatan Jogoroto, Desa Banjardowo, Kecamatan Jombang serta Desa Karanglo, Kecamatan Mojowarno. Semua lokasi menunjukkan hasil serupa yang memenuhi ketiga indikator keberhasilan BTS.
”Ke depan, setiap kecamatan di Jombang akan kami siapkan memiliki satu desa percontohan untuk pengembangan Budidaya Tanaman Sehat. Langkah strategis untuk memastikan pertanian kita tetap berkelanjutan, produktif, dan mampu menghadapi dampak perubahan iklim,” pungkas Rony.
Pacu Perkebunan dan Holtikultura
Program Bongkar Ratun Tebu hingga Ekspansi Kopi Wonosalam ke Pasar Internasional
TAK hanya fokus sektor pangan, Dinas Pertanian (Disperta) Jombang juga terus mendorong peningkatan produktivitas dan daya saing sektor perkebunan dan hortikultura. Sejumlah program prioritas tengah dijalankan sebagai bagian dari upaya diversifikasi pertanian yang berkelanjutan.
Salah satu program yang kini berjalan, yakni bongkar ratun pada lahan tebu seluas 502,22 hektare. Program ini ditujukan untuk meningkatkan produktivitas tebu dengan mengganti tanaman tua (ratoon) dengan tanaman baru yang lebih potensial.
Selain tebu, perhatian juga terus diarahkan pada pengembangan kopi ekselsa Wonosalam, komoditas unggulan Jombang yang kian dilirik pasar. Pemerintah daerah aktif mempromosikan kopi lokal ini melalui berbagai event di dalam maupun luar daerah.
Kepala Disperta Jombang Ir Moch Rony MM, menjelaskan dukungan pada produk hortikultura juga terus diperkuat.
”Durian Wonosalam dan buah alpukat masih menjadi komoditas primadona yang terus kita kembangkan karena potensi pasarnya yang besar,” katanya.
Ia mengapresiasi program Bapak Asuh Petani yang digagas Bupati Jombang Warsubi. Program ini dinilai sangat membantu dalam membangun jaringan kemitraan antara petani dan dunia usaha.
”Seperti yang dilakukan bersama AFCO Group. Kami telah memulai beberapa kegiatan, mulai dari pengembangan pertanian ramah lingkungan hingga membuka peluang kemitraan dengan buyer (pembeli) dari luar negeri,” tutur dia.
Salah satu hasil nyata dari kolaborasi itu, masuknya buyer dari Brunei Darussalam yang siap melakukan pembelian kopi ekselsa Wonosalam.
Ini menjadi langkah awal penting dalam memperluas pasar kopi lokal ke tingkat internasional. ”Penguatan produk lokal, sinergi dengan pemerintah pusat dan provinsi, kolaborasi dengan berbagai pihak, serta pengembangan pertanian ramah lingkungan inilah yang akan terus kita lakukan untuk menyukseskan pembangunan pertanian di Jombang,” pungkas Moch Rony. (fiz/nas)
Editor : Anggi Fridianto