Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Dinas Pertanian Ungkap Hasil Panen Jagung di Jombang Merosot, Ini Penjelasannya

Azmy endiyana Zuhri • Selasa, 7 Oktober 2025 | 22:49 WIB

 

PANEN: Petani di Desa Banyuarang Kecamatan Ngoro memanen jagung (4/10).
PANEN: Petani di Desa Banyuarang Kecamatan Ngoro memanen jagung (4/10).

Radarjombang.id – Panen jagung di Kabupaten Jombang tahun ini mengalami penurunan drastis. Dibanding tahun sebelumnya, panen tahun ini hanya separonya.

Berdasarkan data Dinas Pertanian Jombang, realisasi panen jagung pada Agustus 2025 hanya mencapai 1.513,2 hektare dengan produksi 10.592,5 ton jagung pipilan kering.

Angka ini anjlok tajam bila dibandingkan periode yang sama tahun 2024 yang mencapai 2.983,9 hektare dengan produksi 20.887,3 ton.

‎’’Penurunan tersebut terjadi akibat pergeseran pola tanam yang dipengaruhi kondisi iklim dan kebijakan pangan,’’ kata Kepala Dinas Pertanian Jombang, M Rony, (4/10).

 Tahun ini, wilayah Jombang mengalami fenomena kemarau basah. Meski masuk musim kemarau, hujan masih kerap turun dengan intensitas cukup tinggi. Kondisi tersebut mendorong banyak petani di lahan sawah yang biasanya menanam jagung, beralih menanam padi.

‎’’Karena curah hujan masih tinggi, petani lebih memilih menanam padi. Apalagi tahun ini juga ada program pemerintah terkait swasembada pangan padi dengan program luas tambah tanam (LTT) padi. Jadi otomatis, tanaman jagung di lahan LBS (lahan bekas sawah) mengalami penurunan cukup signifikan,’’ ungkapnya.

‎Meski produksi turun, harga jagung di tingkat petani masih cukup menguntungkan. Saat ini, harga jagung pipilan kering berada di kisaran Rp5.500 hingga Rp6.000 per kilogram. Harga ini relatif bagus, sehingga petani yang masih menanam jagung tetap mendapat keuntungan yang layak.

’’Di sejumlah kecamatan, panen jagung masih cukup tinggi,’’ ucapnya. Di antaranya, Bareng dengan 202,9 hektare, Mojoagung 193,5 hektare, Sumobito 186,6 hektare, Kesamben 181,7 hektare, serta Kabuh dengan 130 hektare.

‎Sejumlah kecamatan yang sebelumnya menjadi sentra jagung, seperti Diwek, Ngoro, Kudu, Ngusikan, dan Ploso, justru tidak mencatatkan panen jagung sama sekali pada Agustus 2025. Kondisi ini menggambarkan adanya pergeseran besar pola tanam. Petani lebih memilih menanam padi karena jaminan hasil dan dukungan program pemerintah.

’’Jagung memang turun, tapi dari sisi padi kita targetkan naik cukup signifikan. Jadi secara keseluruhan kebutuhan pangan di Jombang tetap bisa tercukupi,’’ tegas Rony.(yan/jif)

 

Editor : Anggi Fridianto
#dinas pertanian #Jombang #Pemkab Jombang #panen jagung