Radarjombang.id - di musim hajatan, terutama pernikahan, khitanan, dan Lebaran, permintaan tas hajatan buatan Didin Hari Prasetyo, seorang perajin tas souvenir atau tas hajatan asal Dusun Sidokampir, Desa Budugsidorejo Jombang melonjak tajam.
Meski begitu, Didin Hari Prasetyo selalu bisa memenuhi pesanan lantaran dibantu tangan terampil ibu-ibu penjahit tas yang tersebar di sejumlah dusun.
Menurut Didin Hari Prasetyo, perajin asal Dusun Sidokampir, permintaan tas souvenir biasanya meningkat drastis menjelang dua momen utama.
Saat musim hajatan dan bulan puasa hingga Lebaran. Dari dua momen tersebut, musim hajatan menjadi puncak tertinggi permintaan. ”Kalau mau musim hajatan, pasti naik. Lebih dari 250 lusin bisa dalam sehari. Tapi saya nggak pernah hitung totalnya, karena memang ramai terus,” ujar Didin.
Ketika Ramadan atau jelang Lebaran, jenis pesanan pun bergeser. Tas tidak hanya digunakan untuk acara hajatan, tapi juga untuk membungkus parcel Lebaran yang banyak dipesan toko-toko.
Lebaran yang lalu misalnya, Didin menerima pesanan sebanyak 3.000 tas parcel. Angka yang menurutnya masih terbilang kecil dibandingkan dengan pesanan yang diterima oleh perajin lainnya. ”Itu masih sedikit. Banyak teman-teman lain yang dapat pesanan sampai lima kali lipat dari saya. Karena usaha saya ini terbilang masih kecil,” imbuh dia.
Di balik produksi tas souvenir ini, ada jaringan kerja rumahan yang terorganisir secara sederhana namun efektif.
Didin menyebutkan di tempat usahanya dibantu oleh empat orang dalam proses awal produksi. Setelah bahan siap, proses menjahit dikerjakan para penjahit yang tersebar di rumah-rumah warga, sebagian besar ibu rumah tangga.
”Untuk yang jahit kami nggak tahu persis berapa orang, karena dikoordinasi pengepul. Tapi yang pasti, tas sudah sampai ke kami dalam kondisi sudah jadi,” tutur Didin.
Desa Budugsidorejo selama ini juga dikenal sebagai salah satu sentra produksi tas hajatan. Bahkan, dalam satu dusun saja bisa terdapat empat perajin aktif.
Namun, pusat produksi terbesar justru berada di Dusun Besuk, Desa Curahmalang, Kecamatan Sumobito.
Dengan semangat kewirausahaan dan jaringan produksi yang melibatkan warga sekitar, kerajinan tas hajatan dari Budugsidorejo terus berkembang.
Tidak hanya menjadi sumber penghasilan utama bagi para perajinnya, tetapi juga menjadi penggerak ekonomi lokal berbasis kerajinan tangan yang khas dan fungsional. ”Kalau Lebaran itu moment tahunan. Tapi ketika hajatan, itu bisa datang kapan saja. Jadi permintaan juga bisa terus ada sepanjang tahun,” kata Didin. (fid/naz)
Editor : Anggi Fridianto