Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Harga Jual Gabah di Jombang Lebih dari HET Pemerintah, Petani Semringah

Ainul Hafidz • Selasa, 22 Juli 2025 | 16:03 WIB
DIPANEN: Panen padi di Kecamatan Bandarkedungmulyo menggunakan mesin combine.
DIPANEN: Panen padi di Kecamatan Bandarkedungmulyo menggunakan mesin combine.

Radarjombang.id - Hingga saat ini, harga jual gabah kering panen di tingkat petani cenderung stabil.

Di Kecamatan Bandarkedungmulyo misalnya, gabah petani dibeli tengkulak sebesar Rp 7.100 per kilogram. Harga ini lebih tinggi dari harga pembelian pemerintah (HPP) yang dipatok pemerintah sebesar Rp 6.500 per kilogram.

Mastur Hadi, salah satu petani Desa/Kecamatan Bandarkedungmulyo menyebut harga jual gabah dari petani ke tengkulak saat ini berkisar antara Rp 6.900 hingga Rp 7.100 per kilogram, tergantung kondisi tanaman saat dipanen.

”Saya jual kemarin Rp 7.000 per kilogram. Sekarang mungkin antara Rp 6.900 sampai Rp 7.100 tergantung kondisi tanaman,” terangnya.

Harga jual tanaman padi yang roboh cenderung lebih rendah. ”Karena kalau yang padinya roboh harga turun dari mesin combine itu Rp 6.900 per kilogram, sedangkan padi yang masih berdiri itu Rp 7.100 per kilogram. Masih bagus segitu,” kata Hadi kepada Jawa Pos Radar Jombang, Senin (21/7).

Biaya sewa mesin combine harvester biasanya langsung dipotong tengkulak dari hasil penjualan gabah. Untuk wilayah setempat banon 100 atau seluas 1.400 meter persegi bisa mencapai Rp 300 ribu.

”Di sini banyak yang dujual ke bakul. Tapi panen sekarang masih lumayan, harga Rp 7.000 per kilogram sudah menguntungkan,” ujar Hadi.

Sementara itu, Koordinator Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Kecamatan Bandarkedungmulyo Ahmad Fauzi menjelaskan, pada Juli terdapat sekitar 381 hektare sawah yang memasuki masa panen. Luasan tersebut tersebar di Desa Bandarkedungmulyo, Barongsawahan, Kayen, dan Desa Mojokambang.

”Puncak panen atau panen raya di Kecamatan Bandarkedungmulyo kemungkinan terjadi pada Agustus. Sekarang sebagian kecil saja yang masih belum panen,” ujar Fauzi.

Terkait penyerapan gabah oleh Bulog, menurut Fauzi, harga di lapangan saat ini masih berada di atas HPP. Karena itu, banyak petani lebih memilih menjual hasil panennya ke tengkulak atau pedagang lain yang menawarkan harga lebih tinggi.

”Informasi penyerapan Bulog tetap ada, tapi karena harga pasar sekarang di atas HPP, petani cenderung menjual ke tengkulak. Karena Bulog fungsinya menjaga harga agar tidak jatuh atau turun hingga di bawah HPP,” tutur dia.

Dengan harga yang relatif stabil dan menguntungkan, sebagian petani kini sudah mulai mempersiapkan lahan untuk musim tanam berikutnya, termasuk untuk komoditas semangka yang biasa ditanam usai panen padi.

”Terutama di Desa Bandarkedungmulyo itu sudah mulai olah lahan untuk tanam semangka,” kata Fauzi. (fid/naz)

Editor : Anggi Fridianto
#Jombang #Pemkab Jombang #Harga Gabah #het #panen gabah #mahal