RadarJombang.id – Sebagian petani di Desa Jatibanjar, Kecamatan Ploso Jombang tak menanam padi saat musim hujan tahun ini.
Sejumlah petani di desa ini, justru memilih menanam sayuran, berupa labu air.
Pertimbangannya, waktu panen lebih cepat atau 45 hari sudah panen pertama dan harga jualnya menggiurkan.
Salah satunya dilakukan Tompo, 61, petani Dusun Banjarmlati, Jatibanjar, Ploso, Jombang ini.
Sejak empat tahun terakhir, sawahnya dengan luas sekira 1.000 meter per segi ditanami sayur dan tembakau.
”Sekarang waktunya labu air, setelah itu baru tanam tembakau,” kata Tompo.
Banyak pertimbangan disaat petani lainnya menanam padi, dia lebih memilih menanam labu air.
Mulai dari waktu panen labu air yang lebih cepat. Sebab 45 hari bisa panen awal hingga harganya yang menggiurkan.
”Itu nanti bisa hingga sembilan kali petikan, bahkan lebih. Baru ketika tanaman sudah agak layu akan dibabat,” imbuh dia.
Begitu juga dengan harga jual menurut Tompo, selama ini cenderung bersahabat.
”Awal panen kemarin satu bijinya Rp 6.000, sudah ada tengkulak yang ngambil ke sini," ungkapnya.
Dalam sekali petiknya, ia mengaku bisa memperoleh 370 labu air.
"Paling sedikit itu petikan terakhir atau kesembilan hanya dapat 160 biji saja,” ujar Tompo.
Meski begitu, butuh perawatan ekstra ketika menanam tanaman labu air. Seperti sekarang ini, ketika musim hujan harus rutin disemprot obat.
”Paling tidak tiga hari sekali disemprot, airnya tidak boleh banjir. Harus disedot pakai pompa air,” terang dia.
Tanaman miliknya sekarang ini bakal dilakukan peremajaan. Sebab, sudah banyak yang sudah layu.
”Habis ini dibongkar dan ditanami lagi tanaman baru,” kata Tompo. (fid/riz)
Editor : Achmad RW