RadarJombang.id – Jembatan di atas Kali Konto Desa Barongsawahan, Kecamatan Bandarkedungmulyo Jombang yang rusak, kini semakin melengkung.
Rencana tahun lalu dilakukan pembongkaran batal. Rencana pembangunan jembatan masih buram.
’’Sampai sekarang (rencana perbaikan jembatan Desa Barongsawahan) belum ada, hanya di Kudubanjar yang sudah dialokasikan anggarannya. Karena tahun lalu kami dapat mandatori dari Pak Sugiat (Pj Bupati Jombang 2023-2024),” kata Kepala Dinas Perumahan dan Permukiman (Perkim) Jombang, Agung Hariadi, kemarin.
Pantauan di lokasi, sejumlah warga masih melintasi jembatan yang membentang di atas Kali Konto.
Baik pejalanan kaki maupun pengendara roda dua menyeberangi sungai dengan memanfaatkan jembatan yang kondisinya kini makin rusak.
Saat ini ada dua jembatan rusak imbas bencana belum tertangani. Yakni di Desa Barongsawahan, Kecamatan Bandarkedungmulyo, dan jembatan di Desa Kudubanjar, Kecamatan Kudu.
’’Di Kudubanjar (Kecamatan Kudu) rencananya tahun ini ada penananan permanen,’’ terangnya.
Sementara jembatan di Desa Barongsawahan sudah pernah diusulkan pemerintah desa setempat untuk dibongkar. Tepatnya ketika ada paket penanganan tanggul Kali Konto 2024.
’’Waktu itu teman-teman desa minta ke kami supaya dibongkar, tetapi karena terkendala alat, kami rekomendasi ke dinas PUPR (Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang,’’ imbuhnya
Jembatan itu merupakan penghubung Dusun Sawahan dengan Dusun Jayan yang terpisah Kali Konto. Kerusakan terjadi sejak 2020 lalu. Penanganan permanen sampai sekarang belum jelas.
Kepala Dusun Sawahan, Lutfi Hidayat, mengakui, sebelumnya mengusulkan agar jembatan yang rusak itu dibongkar.
Selain kondisinya kian melengkung, salah satu pertimbangannya, khawatir ambruk saat debit air sungai tinggi. Hingga memicu terjadinya sumbatan aliran sungai.
’’Tahun lalu waktu ada proyek kami mengajukan supaya jembatannya dibongkar, karena khawatir debit air naik lalu ambruk dan menghalangi aliran air. Minimal dibongkar dulu,’’ kata Lutfi.
Pemerintah desa juga sudah kembali mengusulkan agar ada penanganan di jembatan itu.
”Datanya kemarin sudah kami kirim waktu musrenbangcam (musyawarah perencanaan pembangunan kecamatan), mudah-mudahan ada tindak lanjut lagi,” harapnya dia.
Meski kian melengkung, sampai saat ini warga masih melintasi jembatan itu. Karena akses alternatif penghubung antardusun.
”Sebenarnya desa sudah mengimbau agar warga tidak lewat situ, sudah kami plang. Mungkin biar cepat, karena ketika lewat jembatan utama itu agak jauh harus, memutar sekitar 1 kilometer,’’ beber Lutfi. (fid/jif/riz)
Editor : Achmad RW