RadarJombang.id – Banjir melanda lahan persawahan sudah surut. Namun, demikian petani masih waswas tanamannya bakal kembali terendam.
Dinas Pertanian (Disperta) Jombang mencatat, areal seluas 615 hektare sawah yang ditanami padi masuk kategori waspada banjir.
Riyaman salah seorang petani di Desa Kedungmlati, Kecamatan Kesamben mengatakan, tanaman padi miliknya sebelumnya terendam banjir hampir 10 hari.
Kini kondisinya sudah surut. ”Ini masih untung (padi) punya saya tidak sampai mati semua,” kata Riyaman.
Saat ini tanaman padi miliknya sudah berusia hampir 20 hari usai tanam. Pemupukan juga sudah dilakukan.
Harapannya tanaman padi yang selamat dari banjir, tak berdampak signifikan pada hasil panen nanti.
”Biasanya hasil panen akan berkurang, istilahnya tanamannya sekarang sudah tidak bisa tumbuh normal,” imbuh dia.
Musim hujan masih berlangsung. Prediksinya puncaknya hingga Maret nanti.
Riyaman sama seperti petani lainnya, ketar-ketir ketika hujan deras turun tanaman padi miliknya bakal kembali terendam banjir.
”Semoga tidak parah, kalaupun banjirnya lama, tanaman usia segini tidak rentan seperti kemarin. Karena kemarin baru seminggu usai tanam sudah kena banjir,” ujar Riyaman.
Yang membuat dia ketar-ketir, banjir di persawahan selama ini cenderung awet dan bertahan lama.
”Karena penyebabnya itu di Watudakon (Afvoer Watudakon), kalau itu belum dikeruk (normalisasi) wilayah sini pasti akan banjir terus,” tutur dia.
Meski dia bersama himpunan petani pemakai air (Hippa) melakukan kerja bakti di saluran buang itu, menurut dia, belum bisa menuntaskan secara menyeluruh.
”Jadi kemarin sudah kerja bakti, membersihkan tanaman di tengah sungai (Afvoer Watudakon) biarpun tidak seberapa, setidaknya banjirnya tidak sampai lama,” kata Riyaman.
Sementara itu, Kepala Disperta Jombang M Rony menjelaskan, berdasar hasil pendataan, selain 251 hektare tanaman mati akibat banjir.
Beberapa wilayah lain yang kondisi tanaman padi selamat juga rentan kembali terendam banjir. ”Jadi luas area waspada banjir itu 615 hektare,” kata Rony.
Wilayah tersebut menyebar di empat kecamatan. Masing-masing di Kecamatan Kesamben 525 hektare, menyebar di Desa Kedungbetik 200 hektare, Desa Kesamben 75 hektare, dan Desa Watudakon 150 hektare serta DesaKedungmlati 100 hektare.
”Di Kecamatan Peterongan 30 hektare kawasan (Desa) Ngrandulor,” imbuh dia.
Sisanya atau 60 hektare di Kecamatan Tembelang, masing-masing di Desa Tembelang 15 hektare, Desa Rejosopinggir 30 hektare, dan Desa Jatiwates seluas 15 hektare.
”Umur tanaman padi variatif, tetapi rata-rata 20 hari usai tanam,” kata Rony. (fid/naz/riz)
Editor : Achmad RW