RadarJombang.id – Jelang perayaan Imlek, Kelenteng Boo Hway Bio di Mojoagung, Kabupaten Jombang, melakukan tradisi membersihkan rupang atau patung dewa.
Namun, di kelenteng ini, ada rupang unik yang berbentuk kiai yang ikut dibersihkan jelang Imlek.
Seperti yang terlihat pada Senin (27/1), sejak pagi suasana berbeda terlihat di kelenteng yang terletak di belakang RTH mojoagung ini.
Sejak pagi, pengurus kelenteng menurunkan satu persatu rupang dewa yang ada di altar di kelenteng itu.
Yang unik, dari ratusan patung dewa yang dimandikan, terdapat satu patung berbentuk Kiai yang turut dimandikan.
Rupang berbentuk Kiai yang dimaksud adalah Eyang Djugo, yakni diyakini sebagai seorang pasukan pangeran Diponegoro yang dimakamkan di gunung Kawi Malang
Orang-orang Tionghoa lebih suka memanggil Eyang Djugo dengan sebutan Thay Lo Su yang berarti Kiai Guru Tua.
Layaknya rupang dewa lain di kelenteng Boo Hway Bio, rupang Eyang Djugo ini juga ikut dimandikan dengan sabun hingga air kembang.
“Semua patung, termasuk Eyang Djugo, dibersihkan dengan penuh khidmat agar tahun baru dibawa keberkahan," ujar Pengurus Klenteng Boo Hway Bio, Reza Liem.
Tradisi yang berlangsung setiap tahun ini menjadi simbol harapan akan keberkahan dan kebersihan, baik fisik maupun spiritual, menyambut tahun baru penanggalan Tionghoa.
"Kegiatan ini merupakan tradisi Kimsin, yakni bentuk penyucian dan penghormatan kepada dewa-dewa menjelang Imlek,” ungkapnya.
Baca Juga: Di Tiongkok hingga Singapura, Inilah Macam-macam Perayaan Tahun Baru Imlek Setiap Negara di Dunia
Dikatakan Reza, terdapat ritual khusus di klenteng Boo Hway Bio, yang ditujukan kepada Eyang Djugo.
Itu juga yang membuat ada rupang Eyang Djugho di kelenteng tersebut sejak tahun 1960-an lalu
"Jadi untuk Eyang Jugo ini cenderung ke jawa ritualnya tiap jumat legi. Beliaunya ini di gunung kawi pesareannya," jelasnya.
Selain patung Eyang Djugo, terdapat berbagai patung dan barang lainnya disucikan menyambut tahun baru ular ini.
Seperti patung Wu Fu Tati yang merupakan tuan rumah klenteng Boo Hway Bio Mojoagung.
"Untuk tuan rumahnya patung Wu Fu Tati menyetelnya ada 5. Karena bahannya kayu dan ada lapisan emasnya kita tidak mencuci pakai air langsung, jadi cuma kita kuas supaya kimsinya awet," pungkasnya. (riz)
Editor : Achmad RW