Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Renungan Minggu 224, Harmoni Natal

Anggi Fridianto • Minggu, 29 Desember 2024 | 15:15 WIB
Renungan Minggu 73: Kesatuan dan Tekad
Renungan Minggu 73: Kesatuan dan Tekad

Radarjombang.id - Pendeta GPdI House of Prayer Sawahan, Jombang, Petrus Harianto STh, menyampaikan renungan menarik, kemarin.

Terutama tentang pentingnya harmoni Natal. ’’Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal,’’ tuturnya mengutip Yohanes  3:16.

Masuk bulan Desember kita akan banyak menjumpai pernak-pernik hiasan dan lampu-lampu Natal di berbagai tempat. Bulan Desember adalah bulan yang dipenuhi dengan perayaan Natal.

Sebagian orang berpikir Natal berbicara keramaian, sebagian lagi berpikiran hiasan Natal yang muncul begitu ramai memenuhi rumah-rumah, gereja bahkan gedung-gedung besar termasuk pusat perbelanjaan dan restoran.

Namun yang perlu kita tahu, bahwa Natal tanpa Kristus tidak ada artinya. Tanpa Kristus , Natal hanya sebuah perayaan tanpa makna.

Hari ini kita renungkan tentang harmoni natal. Apa itu Harmoni Natal?

Kata harmoni itu biasa ada dalam musik. Pengertian dalam musik mengenai harmoni adalah kumpulan nada, ketika dibunyikan atau dimainkan, maka enak kedengarannya.

Ketika tuts piano ditekan, senar gitar dipetik bersama dengan nada Do-Mi-Sol, maka pasti terdengar indah, itulah harmoni. Jadi harmoni itu bisa diartikan dengan kebersamaan yang indah.

Harmoni tercipta dan dirasakan ketika kita berjalan bersama dalam keselarasan.

Harmoni di hari Natal berarti "semua orang merasakan hal-hal yang sama." Sukacita Natal yang sama. Kegembiraan Natal yang sama. Perasaan Natal yang sama, dan sebagainya. 

Ada beberapa makna harmoni Natal. Pertama, Harmoni Natal adalah kasih itu nyata. Kasih  itu bukan hanya ’’kata’’ tapi ’’karya’’. Harus nyata dalam tindakan. Begitu mudah untuk bicara tentang kasih, tetapi sulit untuk menghidupinya.

Saat kita diperhadapkan dengan keadaan yang tidak baik, sanggupkah kita tetap mengasihi. Saat dikecewakan, sanggupkah kita tetap bersyukur. Saat kita disakiti, sanggupkah kita tetap mengasihi.

Kasih tidak bicara perkataan tetapi perbuatan. Kasih adalah memberi, kasih bukanlah menerima; tetapi kasih adalah memberi.

Ayat di atas berkata: ’’Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya", inilah bukti kasih Allah. Allah mengaruniakan/memberi Anak-Nya.

Memberi artinya saat kita disakiti kita tetap memberi maaf, saat kita difitnah, kita tetapi memberi berkat.

Memang kasih itu tidaklah mudah. Mengasihi orang yang mengasihi kita tidaklah sulit, tetapi untuk mengasihi orang yang memperlakukan kita dengan tidak baik, belum tentu semuanya bisa.

Kasih membutuhkan pengorbanan, itulah yang tidak mudah bagi banyak orang. Namun bila kita menyadari karena kasih-Nya Kristus telah rela datang ke dunia untuk menyelamatkan kita, maka kita akan mampu melakukannya.

1 Yohanes 4:9,11 Dalam hal inilah kasih Allah dinyatakan di tengah-tengah kita, yaitu bahwa Allah telah mengutus Anak-Nya yang tunggal ke dalam dunia, supaya kita hidup oleh-Nya.

Saudara-saudaraku yang kekasih, ’’Jikalau Allah sedemikian mengasihi kita,  maka haruslah kita juga saling mengasihi.’’

Kedua Harmoni Natal adalah damai Kristus ada dalam hidup kita.

Yesaya 9:6 Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; Lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: ’’Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai.’’

Di mulai berdamai dengan Allah, lalu berdamai dengan diri kita dan selanjutnya berdamai dengan sesama. ’’Selamat Natal 2024 dan Tahun Baru 2025. Tuhan Yesus memberkati,’’ ungkapnya. (jif/naz)

 

Editor : Anggi Fridianto
#Renungan #Jombang #GPDI