RadarJombang.id – Kondisi banjir luapan Afvour Watudakon di Dusun Beluk, Desa Jombok Kecamatan Kesamben Jombang hingga hari ke-6 belum menunjukkan tanda-tanda akan surut. Sebaliknya, kondisi genangan air justru semakin naik.
Di sejumlah titiknya, ketinggian air bahkan mencapai 1,5 meter lebih. Kondisi ini memaksa sebagian besar warga mengungsi.
Pantauan di lokasi, Rabu (11/12) siang, tampak permukiman warga sepi. Rumah-rumah warga mulai dikosongkan pemiliknya.
Terlihat beberapa warga tengah berjuang mengevakuasi kendaraan hingga hewan ternak dari kepungan banjir dibantu petugas gabungan.
Kepala Dusun Beluk Sustiyo Budianto mengatakan, sejak Selasa (10/12) malam, warga berbondong-bondong mengungsi. Menyusul genangan air di permukiman terus naik.
Petugas dan relawan berjibaku mengavakuasi warga ke sejumlah posko pengungsian.
”Banjir terus naik. Ketinggian air sudah sekitar 1,5 meter lebih. Jadi, sekarang sebagian besar warga mengungsi,” ungkap Budi kepada Jawa Pos Radar Jombang, Rabu (11/12).
Ia menceritakan, semula masih banyak warga yang masih bertahan di tengah banjir sambil menjaga barang-barang berharga di rumahnya.
Namun, seiring banjir terus naik, warga pun berbondong-bondong mengungsi.
”Sebagian ada yang ke posko balai desa, ada yang mengungsi di masjid serta banyak yang mengungsi di rumah saudara,” terang Kasun Budi yang mengaku juga memutuskan memboyong keluarganya mengungsi.
Sementara itu, jumlah warga yang mengungsi di posko pengungsian di Balai Desa Jombok terus bertambah. Sejumlah warga terlihat beristirahat di sana.
”Saat ini di balai Desa Jombok ada 70 pengungsi, terdiri dari anak-anak, wanita, lansia dan ibu hamil,” terang Senopati Zainudin, penanggung jawab Posko Penanganan Darurat Bencana Kabupaten Jombang.
Senopati menyebut, selain di balai Desa Jombok, sejumlah posko pengungsian juga dibuat di titik-titik lain.
Seperti masjid di Dusun Beluk, salah satu rumah warga dan balai Dusun Pulososari, Desa Jombok.
”Jadi ada beberapa titik, karena jumlah pengungsi juga masih terus bertambah,” imbuhnya.
Penambahan pengungsi itu, juga disebutnya karena kondisi banjir hingga kini tak kunjung surut.
Sehingga mau tak mau, warga harus bergeser ke lokasi lain agar bisa beristirahat.
”Sebagian warga sudah mengungsi di saudaranya. Bapak-bapak dan pemuda sebagian masih stay di sana untuk menjaga barangnya,” imbuhnya.
Ia juga menyebut, banjir yang merendam Desa Jombok tahun ini adalah banjir terparah selama setidaknya 5 tahun terakhir.
”Bisa dibilang banjir terparah, karena banjir terakhir dan parah di desa ini terjadi tiga tahun lalu, namun tidak separah dan setinggi ini airnya,” pungkasnya. (riz/naz/riz)
Editor : Achmad RW