RadarJombang.id – Dua tahun belakangan, produksi tembakau di Kabupaten Jombang bisa disebut sukses besar.
Cuaca yang mendukung membuat produksi tembakau di utara brantas Jombang naik drastis.
Selain itu, petani semringah lantaran harga jual tembakau tinggi. Produktivitas panen tembakau tahun ini juga terhitung cukup tinggi.
Dinas Pertanian Jombang menyebut, tahun ini di luas tanam tembakau di Kabupaten Jombang mengalami kenaikan dari sebelumnya 5.593,64 hektare di tahun 2023 naik menjadi 6.154,4 hektare di tahun 2024.
”Seluruhnya tersebar di 5 kecamatan di utara brantas, yakni Ngusikan, Plandaan, Kabuh, Ploso, dan Kudu,” terang Kepala Dinas Pertanian Jombang M Rony.
Pihaknya menyebut, wilayah paling luas sebagai penanam tembakau berada di Kecamatan Kabuh dengan total 2.245 hektare.
Disusul Kecamatan Kudu dengan 1.468 hektare, dan Kecamatan Ploso seluas 1.383 hektare.
”Namun, untuk produktivitasnya, Kecamatan Kudu jadi yang terbaik dengan 16 ton per hektare, sementara di Kabuh dan Ploso, produktivitasnya mencapai 13-14 ton per hektarnya,” rincinya.
Pihaknya juga menyebut, kemarau panjang yang datang tahun ini juga membuat produktivitas panen tembakau melonjak.
Bahkan, banyak petani yang bisa memanen hingga daun paling kecil.
”Untuk tahun ini, laporan dari teman-teman bukan cuma daun utama dan anakannya saja, sampai daun cucu itu masih bisa dipanen dan laku,” imbuhnya.
Baca Juga: Mulai Masuk Panen Raya Tembakau, Petani di Jombang Berharap Harga Jual Tak Anjlok
Rony juga menjelaskan, masa panen raya tembakau di Jombang memang sudah memasuki masa akhir.
Dari laporan terakhir di minggu ke III September, paling tidak sudah 80 persen tanaman tembakau telah dipanen.
”Jadi hanya sekitar 20 persen yang tersisa sekarang,” imbuhnya.
Selain itu, petani juga semringah lantaran harga jual tembakau juga cenderung mengalami kenaikan.
”Harga daun basah masih di Rp 5.000 sampai Rp 6.000 per kilogramnya, sementara untuk rajangan kering, harganya mencapai Rp 58 ribu,” pungkasnya. (riz/naz/riz)
Editor : Achmad RW