Radarjombang.id - Kondisi rumah pompa untuk pengairan sawah yang nganggur semakin mudah dijumpai.
Di antaranya di Desa Pojokrejo, Kecamatan Kesamben, Jombang. Kini menyisakan rumah, mesinnya juga sudah tak lagi komplet.
Pantauan di lokasi, rumah pompa berada di pinggir saluran dengan cat putih masih dilengkapi pintu dengan tralis besi. Bagian dalamnya juga masih ada terpasang mesin pompa dan pipa.
Namun, kondisinya sudah karatan dan tak karuan.
’’Sudah lama tidak dipakai,’’ kata M Hasan salah seorang warga.
Lebih dari lima tahun mesin pompa itu tak dipakai.
’’Dulu airnya ngambil dari sungai kemudian dialirkan ke irigasi,’’ imbuhnya.
Lama kelamaan pompa tak lagi difungsikan. Sehingga, kini nganggur dan tak lagi terpakai.
’’Kadang masih dipakai simpan mesin diesel, waktu ada yang mau ngaliri sawah. Dieselnya ditaruh di situ,’’ ujar Hasan.
Petani saat ini lebih banyak memakai mesin pompa pribadi. ’’Kadang ada yang sewa terus ditaruh sana,’’ ujarnya.
Sementara itu, Kabid Sumber Daya Air (SDA) Dinas PUPR Jombang, Sultoni, mengakui, banyak rumah pompa untuk suplai pengairan sawah kini tak terpakai.
’’Banyak yang rusak mesinnya dan sekarang tinggal rumahnya saja. Pompanya tidak bisa dipergunakan,’’ terangnya.
Dulu ada bantuan pembangunan rumah plus mesin pompanya. Saking lamanya, dia tak hafal tahun berapa.
’’Pasnya kapan belum tahu, yang jelas sudah lama. Sekarang banyak yang tidak dipakai,’’ tuturnya.
Fungsinya membantu petani mengairi sawah. Khususnya di lokasi yang tidak mendapat jatah dari jaringan irigasi.
’’Seperti dari saluran irigasi Mrican, irigasi Siman, yang jauh dari sungai, dulu dibantu itu,’’ ungkapnya.
Tak lagi dipakainya alat itu salah satunya berkaitan biaya operasional.
’’Mesin pompa besar, sehingga biaya operasionalnya butuh banyak. Belum biaya perawatannya. Akhirnya tidak dipakai dan dibiarkan sampai rusak,’’ paparnya. (fid/jif)
Editor : Anggi Fridianto