RadarJombang.id – Angka penderita diabetes melitus dan hipertensi di Kabupaten Jombang terus melonjak.
Data Dinas Kesehatan, pada 2023 ada 294.869 penderita hipertensi dan ada 35.735 penderita diabetes.
Jumlah itu, naik tajam dibandingkan tahun sebelumnya.
Plt Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Jombang Syaiful Anwar menyampaikan, angka penderita diabetes melitus dan hipertensi cenderung meningkat setiap tahunnya.
”Kalau dilihat dari angkanya setiap tahun memang ada penambahan kasus baru DM (diabetes melitus) dan HT (hipertensi), terhitung akumulatif bersama dengan kasus yang baru ditemukan,” ujar dia.
Dijelaskannya, mayoritas penderita diabetes dan hipertensi adalah usia diatas 15 tahun.
Catatan Dinas Kesehatan Jombang menyebut, angka diabetes tahun 2019 ada 24.068 orang.
Namun di tahun 2020 menjadi 27.179 orang, 2021 naik drastis menjadi 27.516 orang, 2022 33.150 orang dan 2023 tercatat 25.735 orang menderita diabetes.
Sementara hipertensi sejak tahun 2019 ada 52.837 orang.
Jumlahnya terus naik di tahun 2020 menjadi 115.941 orang, 2021 menjadi 293.052, 2022 menjadi 257.586 dan 2023 akhir menjadi 294.869 orang.
Baca Juga: Ganti Garam Dengan Zat Ini Agar Terhindar Dari Perburukan Hipertensi
”Data itu kami himpun dari seluruh puskesmas di Jomban. Kalau kasus dibawah 15 tahun ada juga, tapi tidak banyak, kalau tidak salah 3-4 anak saja,” jelasnya.
Menurutnya, diabetes dan hipertensi dapat mengganggu metabolisme tubuh.
Risikonya bisa ke kerusakan syaraf, gagal ginjal hingga kebutaan.
Sedangkan, hipertensi yang diukur dengan tensimeter dapat berpotensi menderita penyakit jantung hingga stroke.
”Bisa disembuhkan atau tidak saya tidak bisa berasumsi. Tapi rata-rata kasus seperti itu bisa kembali lagi jika pola hidup tidak berubah,” jelasnya.
Dijelaskan, salah satu penyebab diabetes dan hipertensi yang paling banyak adalah dari faktor keturunan.
Hanya saja, hal itu tidak selalu terjadi.
Utamanya jika dilakukan upaya pencegahan sejak dini, dengan pola hidup, pola aktifitas dan pola makan yang lebih sehat.
”Faktor trauma juga bisa, seperti kecelakaan, tapi itu jarang terjadi,” jelasnya.
Disingggung apakah penderita diabetes juga berpotensi menderita hipertensi maupun sebaliknya, Syaiful tak berani membenarkan.
Ia hanya menyebut, jika kedua penyakit itu saling berkaitan.
”Sejauh ini belum ada penelitian yang saya baca terkait hipertensi pasti diabetes maupun sebaliknya, tapi tidak bisa kita pungkiri, jika dua penyakit itu saling berkaitan,” pungkasnya. (wen/ang/riz)
Editor : Achmad RW