RadarJombang.id - Kemacetan lalu lintas di H+1 Lebaran juga terjadi di jalur provinsi Jombang-Ploso.
Jalan Provinsi Jombang-Ploso ini, juga mengalami kemacetan panjang hingga lebih dari 5 kilometer Kamis (11/4) sejak pagi hingga siang hari.
Pantauan di lokasi, dari arah Ploso misalnya atau depan Pasar Ploso menuju Jombang kota baik roda empat maupun roda dua mengular panjang.
Kondisi itu terjadi hingga di jembatan baru Ploso Jombang, kendaraan menumpuk di kedua lajur jalan.
Dari lokasi itu hingga memasuki perempatan Desa Sentul, Kecamatan Tembelang, dipenuhi roda empat dan roda dua.
”Hampir setengah jam baru bisa lewat jembatan,” kata Syaiful salah seorang pengemudi roda empat.
Dikatakan, dia dari Surabaya lewat Kabupaten Mojokerto hendak ke Desa/Kecamatan Megaluh.
”Ternyata di sini macet,” imbuh dia kemudian melanjutkan perjalanan.
Kondisi serupa juga terpampang di pertigaan jalan Desa/Kecamatan Tembelang.
Hingga pukul 10.49 WIB kendaraan mengular panjang dari arah Ploso menuju Jombang.
”Parah, macet pol, sejak pagi pukul 09.00 WIB,” kata Wahyu Santoso salah seorang sukarelawan pengatur lalu lintas.
Wahyu bersama dua rekannya menjadi sukarelawan yang mengatur lalin di pertigaan jalan itu mengakui, paling banyak kendaraan melintas dari arah utara ke selatan.
”Kelihatannya banyak yang mau ke jalan tol masuk Tembelang,” ujar dia.
Diakui, dibanding hari H Lebaran, kendaraan yang melintas kali ini meningkat.
”Setelah salat Id kemarin nggak sampai macet begini,” kata lelaki usia 35 tahun ini.
Terpisah Perwira Pengendali (Padal) Pospam (Pos pengamanan) Exit Tol Tembelang Iptu Suraji mengakui, terjadi peningkatan kendaraan di jalan provinsi Jombang-Babat ataupun sebaliknya.
”Jadi hari H sebenarnya juga padat, tapi lebih tinggi hari ini (kemarin),” kata Suraji saat mengatur lalin di perempatan Desa Sentul, Kecamatan Tembelang.
Kendati mengalami peningkatan, menurut Suraji, kepadatan tak sampai parah hingga kendaraan berhenti lama.
”Untuk sementara memang padat, tapi (kendaraan) masih bisa berjalan biarpun ini merayap,” imbuh dia.
Salah satu penyebabnya, masih menurut dia, karena banyak warga yang bersilaturahmi.
”Kedua di jalur ini banyak persimpangan, dan ketiga tidak ada perlengkapan atau barikade yang dipasang di persimpangan jalan,” ujar Suraji yang juga Kapolsek Ngusikan ini.
Karena itu, beberapa petugas yang bejaga di persimpangan jalan tak jarang menghentikan sementara waktu setiap kendaraan yang hendak menyeberang.
”Kita utamakan di jalan utama (jalan provinsi) untuk jalur alternatif seperti dari arah Megaluh ke jalan utama dibuka sistem buka-tutup, melihat situasi dan kondisi,” kata Suraji. (fid/riz)
Editor : Achmad RW