RadarJombang.id - Dinas Kesehatan (Dinkes) Jombang mengklaim jika puncak kasus demam berdarah dengue (DBD) di Jombang terjadi Februari 2024
Namun, sampai hingga pertengahan Maret 2024, masih banyak temuan kasus DBD aktif di Jombang.
Bahkan, data terakhir Dinkes menyebut 22 Desa di Kabupaten Jombang masih memiliki pasien DBD aktif.
’’Tetap harus siaga, intinya pemberantasan sarang nyamuk,’’ kata Plt Kepala Dinas Kesehatan Jombang, Syaiful Anwar, (17/3).
Sebanyak 22 desa tersebut masuk zona kuning. Dimana ada kasus DBD aktif satu sampai dua orang.
Syaiful jugamemastikan, di Jombang Tidak ada desa yang lebih dari dua kasus aktif DBD.
’’Hari ini (kemarin) sudah tidak ada yang merah, 22 desa kuning sisanya hijau. Hijau itu nol kasus aktif,’’ jelasnya.
Hingga (16/3) tidak ada tambahan kasus yang dilaporkan ke Dinas Kesehatan Jombang.
Terakhir laporan masuk Jumat (15/3), ada 390 inveksi virus dengue (IVD) dan 148 DBD.
’’Sejauh ini belum ada tambahan kasus baru,’’ ucapnya.
Meski sudah dianggap menurun, tapi siaga DBD tetap harus dilakukan.
Yakni dengan melakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) di rumah, sekolah-sekolah dan di fasilitas umum.
’’Sekali telur nyamuk menempel, maka ancaman akan berlaku selama enam bulan, makanya harus PSN,’’ tegasnya.
Laporan kasus meninggal dunia juga tidak ada tambahan. Terakhir anak usia enam tahun asal Desa Candimulyo Kecamatan Jombang yang meninggal Kamis (14/3).
Total ada 10 yang meninggal karena DBD. Seluruhnya meninggal di RSUD Jombang. Terdiri dari sembilan anak-anak dan satu dewasa. ’’Semoga itu yang terakhir,’’ harapnya. (wen/jif/riz)
Editor : Achmad RW