Padi yang baru ditanam petani Desa Kedungbetik itu, terendam air hingga nyaris tak kelihatan dan mirip lautan.
Pantauan di lokasi, Jumat (19/1), hampir semua petak sawah yang baru ditanami padi di Desa Kedungbetik terendam air.
Saking luasnya, sawah yang terendam air masing-masing petak tak terlihat lagi.
Menurut Sodikin salah seorang petani, sudah empat hari terakhir sawahnya kebanjiran.
”Senin malam Selasa itu air sudah naik, paginya banjir,” katanya.
Air itu berasal dari luapan Afvouer atau saluran pembuang Kedungbajul.
Karena debitnya tinggi sehingga meluber ke lahan pertanian.
”Sampai hari ini (kemarin, Red) masih tinggi, di sawah ketinggiannya sekitar 10 sentimeter,” imbuh dia.
Menurut dia, salah satu yang menjadi penyebab karena kondisi saluran sudah tidak normal.
Selain tanggulnya kritis dan rendah, Afvour Kedungbajul juga sudah rendah karena sedimentasi yang tinggi.
”Sebenarnya sejak dulu, musim hujan di sini pasti banjir. Selam ini belum ada solusi,” tutur Sodikin.
Imbasnya, petani di sekitar setiap tahun harus berhadapan dengan banjir.
”Ini rata-rata tanaman padi yang kebanjiran usia 14 hari atau dua minggu,” lanjut dia.
Karena masih berusia 14 hari itulah pihaknya hanya bisa pasrah dan menunggu air surut.
”Mau diapakan lagi tidak bisa, mudah-mudahan tidak sampai mati semua,” harapnya.
Hal senada diungkapkan Fahrudin, petani lainnya yang mengaku juga sudah selesai menanam padi.
Bahkan, sebagian besar juga sudah melakukan pemupukan. “Dan sekarang kena banjir,” ujarnya.
Sementara itu, Kasun Kedungmacan Rokhim, membenarkan bila hampir semua lahan pertanian di tempatnya kebanjiran.
”Sudah empat hari ini area pertanian kebanjiran, petani padahal baru saja selesai tanam,” katanya.
Dijelaskan, lahan terdampak banjir di Desa Kedungbetik itu seluas 150 hektare.
Menyebar di tiga dusun, meliputi Dusun Ngemprak, Dusun Kedungmacan dan Dusun Kandangsapi.
”Sekarang kita upayanya buka pintu dam, supaya air dari saluran tidak semakin luber ke sawah. Karena sampai sore masih tinggi,” ujar dia.
Diakui, air yang membanjiri petak sawah merupakan luberan saluran buang.
Baca Juga: Sawah Mengering Di Awal Musim Tanam, Petani di Jombang Waswas Padi Mati
”Sebetulnya sudah butuh dan waktunya normalisasi, desa sudah pernah mengajukan, tapi belum ada realisasi,” tegas Rokhim.
Terpisah, Sultoni Kepala Bidang Sumber Daya Air Dinas PUPR Jombang, menjelaskan banjir yang menggenangi hamparan sawah itu dampak air Afvour Kedungbajul naik sehingga meluap.
Terlebih, area persawahan itu level tanahnya nyaris setara dengan saluran pembuang.
“Yang terdampak ini wilayah yang sudah langganan banjir setiap kali Afvour Kedungbajul penuh,” imbuhnya.
Kondisi itu semakin pelik karena kondisi hilir Afvour Kedungbajul tak bisa mengalir dengan cepat.
“Jadi Kedungbajul ini hulu dari Afvour Watudakon, kebetulan di hilir, Afvour Watudakon juga debitnya sedang tinggi, sehingga air harus mengantre,” pungkas dia. (fid/riz/bin/riz)
Editor : Achmad RW