JOMBANG – Harga kedelai impor yang naik sangat tinggi membuat para pembuat tahu di Kabupaten Jombang menjerit.
Terlebih, kenaikan harga kedelai di Jombang mencapai Rp 2.000 per kilogram (Kg).
Untuk menyiasati kenaikan harga kedelai yang makin mahal, mereka terpaksa mengurangi jumlah produksi dan memperkecil ukuran tahu.
Seperti dirasakan Abdul Rohim, 48, pembuat tahu asal Desa Mayangan, Kecamatan Jogoroto, yang mengaku harga kedelai kembali naik tajam.
“Kenaikan sudah terjadi sejak satu bulan lalu, dari awal Rp 10.500 per-Kg, sekarang menjadi Rp 12.500," katanya.
Naiknya harga kedelai impor itu membuat dia harus mengurangi jumlah produksi.
Jika dalam kondisi normal, pihaknya bisa menghabiskan kedelai 1,5 ton, kini berkurang menjadi 1 ton dalam sekali produksi.
"Penghasilan jadi berkurang, selisih per hari Rp 2 juta, sebenarnya bisa buat bayar karyawan,” tambahnya.
Biasanya, dalam sehari dirinya bisa menghabiskan 100 loyang (kotak cetakan tahu), kini hanya 80 loyang.
Pihaknya juga terpaksa memperkecil ukuran tahu agar tidak semakin merugi.
Baca Juga: Harga Kedelai Makin Melangit, Perajin Tahu Terancam Bangkrut
"Ya mengurangi isi kedelai, kalau masih nggak nutut dikecilin irisannya. Per loyang dikurangi satu kilo, kalau ukurannya dikecilin, maka biasanya 20 iris, sekarang 25," tuturnya.
Ia pun berharap pemerintah segera mencarikan solusi untuk mengatasi kenaikan harga kedelai impor yang terus berjalan.
Bila kondisi ini berlangsung lama, maka tidak menutup kemungkinan para produsen tahu di Jombang akan berhenti produksi.
"Ya ancamannya mogok kerja, kalau nggak nutut ngapain diterusin bisa rugi. Yang terbaik ya berhenti produksi kalau pemerintah nggak ada solusi," pungkas Rohim. (yan/bin/riz)
Editor : Achmad RW