JOMBANG – Kondisi dua saluran air yang melintasi wilayah Jombang kota memprihatinkan saat kemarau panjang datang.
Minimnya pasokan air dari wilayah hulu, membuat saluran air berubah jadi saluran limbah. Akibatnya, aroma bau busuk menyeruak, juga sampah yang menumpuk.
Saluran pertama yang kondisinya memprihatinkan, adalah sekunder Gude-Ploso.
Pantauan Jumat (8/9) pagi, saluran yang membentang dari arah Gudo menuju wilayah dalam kota dan mengarah ke utara ini tak nyaman dilihat.
Aroma busuk menyengat keluar dari saluran ini. Di wilayah Desa Tambakrejo hingga Desa Mojokrapak misalnya.
Air dalam saluran berubah warna meski keberadaan sampah cenderung bersih.
“Airnya keruh, kadang-kadang warnanya jadi putih dan baunya menyengat sekali,” ucap Hakim, 34, salah seorang warga Desa Mojokrapak.
Kondisi itu menurutnya sudah berlangsung selama dua bulan terakhir.
Pasokan air dari hulu yang makin sedikit, ditambah limbah yang menumpuk, membuat saluran semakin berbau busuk setiap hari.
“Beberapa pabrik buang limbahnya di sini, begitupun limbah rumah tangga, rumah-rumah juga jorongannya ke sungai. Setiap tahun memang begini kondisi sungai tiap musim kemarau,” lanjutnya.
Kondisi tak jauh berbeda, terlihat di Kali Jombang Kulon. Kali yang melintasi wilayah Pasar Legi juga memprihatinkan.
Debit air saluran ini terlihat kecil, dengan warna yang keruh. Bau air di saluran ini juga cukup menyengat, meski tak separah di sekunder Gude Ploso.
Namun, di saluran ini justru sampah plastik terlihat mendominasi. Titik terparahnya, berada di hilir bendung Tambakberas.
Lokasinya berada di dekat MAN 3 Jombang. Hilir bendung dipenuhi sampah plastik, styrofoam hingga sampah domestik.
“Selalu begini, sudah dibersihkan juga, akhirnya balik lagi, plastik nyangkut,” sahut Eko Prasetyo, 32, salah seorang warga di lokasi.
Kondisi itu diperparah dengan banyaknya warga yang membuang sampah saat melintasi jembatan di atas bendungan.
“Yang popok utamanya, biasanya warga yang lewat, melempar sampah begitu saja,” imbuhnya.
Hal ini menjadikan saluran air terlihat sangat kumuh. Selain bau menusuk hidung lantaran tumpukan sampah yang tak tertangani.
Kondisi saluran lebih baik, hanya terlihat di Kali Jombang Wetan. Seperti di Dam Pancasila Desa Sambongdukuh, saluran air relatif lebih bersih.
“Debit sungainya memang tidak besar, tapi bersih, tidak banyak sampah dan limbah,” tegas Cahyono, 33, warga Sambongdukuh di lokasi. (riz/bin/riz)
Editor : Achmad RW