JOMBANG – Petani tembakau di kawasan Utara Brantas Jombang semringah. Selain cuaca yang mendukung, harga jual tembakau ikut melambung.
Kenaikan harga itu terjadi baik untuk daun tembakau basah maupun daun tembakau yang sudah kering kering.
Salah satunya diakui Lasipan, 67, warga Dusun/Desa Sumberingin, Kecamatan Kabuh, kemarin (24/8). Ditemani istri dan anaknya, mereka tampak sibuk memproses daun tembakau yang baru dipetik.
Mereka menjemur rajangan tembakau dan merajang tembakau dengan mesin. ”Ini kita jemur sampai kering. Alhamdulillah panasnya banter (menyengat) jadi cepat kering,’’ ujarnya di sela-sela menjemur rajangan tembakau.
Lasipan mengatakan, harga tembakau saat ini sedang tinggi-tingginya. Harga jual baik basah maupun kering melebihi harga jual panen musim kemarin.
Dijelaskan, ada dua jenis tembakau yang dipanen sekarang ini. Yakni jenis jinten dan rejeb. Untuk harga jual jenis jinten basah dibanderol Rp 5.500 sampai Rp 6.000 per kilogram (Kg).
Sedangkan harga kering yang sudah dirajang Rp 35.000 sampai Rp 36.000 per Kg. Sedangkan untuk jenis tembakau rejeb lebih mahal. Untuk basah Rp 8.000 sampai Rp 9.000 per Kg. Harga kering bisa mencapai Rp 41.000 sampai Rp 42.000 per Kg.
”Harga sekarang bagus. Dibandingkan tahun lalu kalau basah untuk jinten kisaran Rp 3.500 sampai Rp 4.000 saja,’’ rincinya.
Lasipan mengatakan, harga tembakau baik basah maupun kering ada kenaikan cukup tajam karena cuaca yang sangat mendukung. Berbeda dengan tahun lalu, saat musim tanam tembakau, wilayah utara Brantas diguyur hujan beberapa kali.
Bahkan, intensitas hujan cukup tinggi. ”Beberapa petani di Sukodadi juga banyak yang gagal panen karena terendam air,’’ kenang dia.
Sedangkan saat ini, cuacanya lebih mendukung setelah sejak bulan lalu tidak ada lagi hujan. Lantas bagaimana untuk pengairan lahan tembakau di musim kemarau ini? Menurutnya, tembakau adalah jenis tanaman yang tidak membutuhkan banyak air.
Sehingga hanya disiram seminggu sekali saja sudah cukup. ”Seminggu sekali disiram,’’ jelasnya.
Terlebih, cuaca sangat mendukung petani dalam menjemur tembakau. Hasil rajangan tembakau benar-benar kering setelah dijemur seminggu.
”Sekarang dijemur seminggu sudah bisa diangkat dan dikemas. Kalau tahun lalu bisa lama bahkan sampai 1 bulan,’’ tambahnya.
Lasipan mengatakan, untuk menjual hasil panen ia memilih jual kering. Menurutnya, omzet yang didapat lebih banyak daripada tembakau dijual basah.
”Meski kalau jual kering ada beberapa proses dulu. Mulai dirajang, di jemur sampai dikemas dalam plastik,’’ pungkas dia. (ang/bin/riz)
Editor : Achmad RW