Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Petani di Jombang Kesulitan Air, Tanaman Padinya Dibiarkan Mengering di Sawah

Anggi Fridianto • Rabu, 16 Agustus 2023 | 13:25 WIB

 

 

Petani di Dusun/Desa Plabuhan, Kecamatan Plandaan menunjukkan tanaman padi yang dibiarkan mengering karena kekurangan air.
Petani di Dusun/Desa Plabuhan, Kecamatan Plandaan menunjukkan tanaman padi yang dibiarkan mengering karena kekurangan air.

JOMBANG – Musim kemarau membuat petani di wilayah utara Brantas kesulitan mendapat pasokan air. Akibatnya, sebagian sawah gagal panen, padi mereka dibiarkan mengering di sawah.

Seperti yang terlihat di Desa Plabuhan, Kecamatan Plandaan ini. Pantauan di lokasi, tampak sejumlah petak sawah mengering karena kekurangan air. Kondisi tanah retak-retak, biji padi yang sudah menginjak usia panen kopong dan mengering. Tidak hanya di satu area, pada beberapa sawah yang lain juga kondisinya tak berbeda jauh.

Salah satunya diakui, Dedik, 48, salah satu petani setempat. Ia mengakui, kondisi dua waduk di Desa Pelabuhan mengering hingga membuat sawah petani tak teraliri air secara maksimal.

”Ini tidak bisa dipanen, karena kemarau kesulitan mendapatkan air untuk mengairi sawah,’’ terangnya sembari menunjukkan bulir padi tak berisi.

Dia menjelaskan, dua embung yang mengering sejak tiga bulan itu adalah embung Grojogan dan embung Plabuhan. Bisa ditebak, sebagian sawah tidak bisa teraliri air secara maksimal. Kalaupun ada petani yang punya modal, maka harus mengeluarkan biaya ekstra untuk biaya pompa air.

”Ini (padi) umur tiga bulan, harusnya sudah masuk musim panen. Tapi karena tidak ada air jadi ya mati tidak bisa dipanen,’’ jelas dia.

Secara umum, kondisi sawah yang tidak mendapat pasokan air dengan maksimal bisa dilihat dari kondisi tanahnya yang retak-retak. Selain itu, daun padi juga mengering dan bulir padi menjadi kopong.

”Ya ini kopong tidak ada isinya,’’ terangnya sembari menunjukkan bulir padi kepada wartawan koran ini kemarin.

Ia menyebut, petani bisa saja menggunakan mesin diesel untuk memompa air dalam tanah. Namun, beda lahan beda juga kondisinya. Lahan yang berada di sisi utara jalan Desa Plabuhan cenderung lebih gersang.

Sehingga, biaya pompa air ditaksir lebih besar dan petani merogoh kocek sangat dalam. ”Jadi pilihannya ditinggal seperti ini. Sebagian juga ada yang diambil untuk pakan hewan ternak,’’ jelas dia.

Disinggung terkait kerugian akibat gagal panen, Dedi menaksir bisa mencapai puluhan juta rupiah. Sebab, dalam sekali panen biasanya ia bisa mendapatkan hasil Rp 6 juta/ton.

”Kalau di sini (Plabuhan, Red) 5.000 meter persegi, kemungkinan ya rugi puluhan juta. Itu belum termasuk biaya tanam dan selama perawatan,’’ bebernya.

Tak hanya di Dusun Plabuhan, ia menyebut beberapa dusun lain  juga mengalami hal sama kekeringan. Ia berharap  pemerintah bisa segera mencarikan solusi agar kekeringan tidak berlarut-larut.

Semisal melakukan normalisasi embung tadah hujan yang dijadikan petani sebagai sumber irigasi. ”Paling tidak pemerintah bisa lebih memperbesar atau normalisasi air untuk bisa dinaikkan dari waduk ke sawah,” Harapnya.

Dikonfirmasi terpisah, Kepala Disperta Jombang M Rony, mengaku belum menerima laporan petani gagal panen akibat kesulitan irigasi. ”Namun secepatnya, kita minta teman-teman POPT dan PPL untuk evaluasi,’’ pungkasnya. (ang/bin/riz)

 

Editor : Achmad RW
#kesulitan air #plandaan #Jombang #musim kemarau #petani padi