Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Masalah Menahun, Begini Cara Petani Kesamben Siasati Kesulitan Air Saat Kemarau

Ainul Hafidz • Selasa, 8 Agustus 2023 | 17:08 WIB
petani di Kesamben selalu kekurangan air saat musim kemarau
petani di Kesamben selalu kekurangan air saat musim kemarau

JOMBANG – Kesulitan air irigasi saat musim kemarau menjadi masalah tahunan bagi petani di Kecamatan Kesamben. Mereka lebih banyak mengandalkan sumur bor untuk kebutuhan air hingga panen tiba.

’’Setiap tahun pengairan di sini sulit. Pasti pakai sumur bor semua,’’ kata Saguh, petani asal Dusun Kandangan, Desa Carangrejo, Kecamatan Kesamben, kemarin.

Sawah miliknya dengan luas 1.400 meter persegi kini ditanami jagung. Sudah dua kali ini ia mengandalkan pengairan dari sumur bor.

Air dari sumur bor itu, dialirkan menggunakan mesin pompa. Biasanya, hingga menjelang panen, butuh enam kali mengairi sawah.

’’Pokoknya dua minggu sekali harus mompa, kalau tidak begitu, tanamannya tak bisa tumbuh bagus,’’ imbuhnya.

Akibatnya, biaya operasional membengkak. Sekali memompa butuh hingga lima liter premium. ’’Butuh Rp 60.000 mulai pagi sampai sore, itupun hanya untuk membasahi saja,’’ ujar Saguh.

Kesulitan air saat musim kemarau sudah terjadi sejak puluhan tahun lalu. ’’Dulu airnya dijatah dari Kediri, terus lewat daerah Sumobito, baru ke sini. Sekarang sudah tidak ada lagi. Sejak 1985-an sulit air,’’ urainya.

Sementara itu, Kepala Dinas PUPR Jombang, Bayu Pancoroadi melalui Kabid Sumber Daya Air (SDA), Sultoni, mengatakan, wilayah Kesamben masuk irigasi teknis.

Kebutuhan air baku sawah disuplai dari daerah irigasi Mrican di Kabupaten Kediri. ’’Hanya saja jarak dari pengambilan hingga hilir terlalu jauh, sehingga beberapa kali gilir airnya kurang,’’ kata Sultoni.

Disisi lain, saat ini terdapat sejumlah pekerjaan proyek milik Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas. Baik di Sekunder Sentul maupun Sekunder Melik. ’’Sehingga mau tidak mau mengganggu pola air, akhirnya daerah hilir paling terdampak,’’ imbuhnya.

Menurutnya, saat ini kebutuhan di wilayah setempat sudah tercukupi. Khususnya untuk kebutuhan tanam padi.

’’Insya Allah cukup, karena sudah mulai panen padi. Karena di daerah sana tanamnya mendahului. Sekarang lebih banyak tanam palawija. Secara otomatis kebutuhan air semakin kecil,’’ bebernya. (fid/jif/riz)

Editor : Achmad RW
#Kesamben #petani #kesulitan air #irigasi #Jombang