JOMBANG - Kemarau panjang membuat debit air tanah di Desa Jipurapah, Kecamatan Plandaan, Jombang berkurang. Kondisi itu memaksa warga memanfaatkan air di sungai untuk kebutuhan mandi dan mencuci pakaian.
Seperti yang dirasakan Sulhadi, 65, warga Dusun/Desa Jipurapah. Sehari-hari ia mendapatkan pasokan air dari sumur Pamsimas yang ada di desanya.
Namun, debit air berkurang ketika siang hingga sore hari. Bahkan, sering kali air tidak keluar sama sekali di waktu sore sekitar pukul 15.00.
"Air yang di desa itu tidak mencukupi. Sebenarnya air terus hidup, cuman kalau sudah jam 2-3 sore itu sudah ndak lancar," ujarnya saat ditemui wartawan, Jumat (04/08).
Karena itu, Sulhadi harus rela berjalan sejauh 1 Km dari rumahnya untuk menuju Sungai Marmoyo setiap harinya. Di sungai ini, ia mengambil air untuk dibawa pulang. Untung saja, air di Sungai Marmoyo ini masih lancar.
"Ini tidak untuk masak. Hanya untuk mandi dan cuci saja. Kalau orang-orang ke sini (Sungai Marmoyo, Red) biasanya pagi jam 9 dan sore jam 3," tandasnya.
Ia berharap, pemerintah daerah bisa mencarikan sumber air yang besar di Desa Jipurapah. Sehingga, saat musim kemarau tidak lagi kesulitan air. "Kalau bisa dicarikan sumber air bersih yang besar," kata Sulhadi.
Hal yang sama juga dirasakan warga Dusun/Desa Jipurapah lainnya, Santik, 40. Ia mengaku, debit air mulai berkurang di desanya sejak bulan Juli lalu.
"Kekurangan air, banyak kurangnya. Sudah sejak bulan 7 itu mulai kekeringan, karena tidak ada hujan sama sekali," ungkapnya.
Karena itu, setiap hari dirinya kekurangan air untuk kebutuhan memasak, mandi, dan mencuci pakaian. Untuk mencukupi kebutuhan air itu, ia terpaksa mengambil air dari sungai.
"Untuk mandi, masak, mencuci pakaian itu kurang. Biasanya ambil air di sungai Dusun Kedungdendeng," ucapnya.
Kepala Desa Jipurapah Hadi Sucipto mengatakan, sumber air bersih masih melimpah di desanya. Selama ini, air bersih diambil dengan sumur Pamsimas yang dialirkan ke rumah-rumah warga sebanyak 178 KK.
"Kalau air itu tidak kesulitan, airnya lancar. Itu kan sumbernya ngebor dari dalam hutan. Lalu setiap rumah itu ada meterannya," terangnya.
Hadi mengatakan, warga yang mengaku kekurangan air melalui sumur Pamsimas diduga belum membayar iuran perawatan. "Mungkin yang debitnya kecil itu ndak bayar perawatan, gitu saja," ujarnya.
Namun, pihaknya tak menampik jika kemarau berdampak ke sektor pertanian di desanya. Saat ini, para petani di Desa Jipurapah sudah mulai kekurangan air untuk mengairi sawah.
”Cuman kalau untuk pertanian itu kurang air. Kalau untuk konsumsi, masak, minum itu tidak kekurangan. Petani musim kemarau ini ngebor dari dalam sungai," kata Hadi.
Sementara itu, Supervisor Pusdalops BPBD Jombang Stevie Maria membenarkan musim kemarau mulai berdampak kepada turunnya debit air di dalam tanah. Seperti yang terjadi di Desa Jipurapah.
"Hasil koordinasi awal kami, memang kondisi debit air tanah berkurang. Tapi belum sampai mengganggu pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat, dalam hal ini makan dan minum," ungkapnya.
Pepi, sapaan akrabnya mengatakan, Desa Jipurapah merupakan salah satu daerah yang tercatat rawan kekeringan. Sebab, pada 2018 lalu, pihak BPBD pernah mendapatkan laporan kekeringan di desa tersebut.
”Beberapa tahun yang lalu, sekitar 5 tahun lalu pernah dilaporkan kekeringan di Desa Jipurapah. Saya pernah dropping air ke sana. Tapi tahun kemarin tidak ada," ucapnya. (riz/naz/riz)
Editor : Achmad RW