JOMBANG – Keberadaan embung Grojogan di Desa Plabuhan, Kecamatan Plandaan dikeluhkan petani sekitar. Terutama saat musim kemarau.
Embung Grojogan yang diandalkan untuk mengairi puluhan hingga ratusan hektare lahan pertanian warga di musim kemarau justru kering. Tanaman warga pun terancam rusak lantaran minimnya pasokan air.
Pantauan di lokasi, kondisi embung yang pembangunannya menelan anggaran mencapai sekitar Rp 7 miliar dari APBD Provinsi Jawa Timur pada 2007 itu mengering.
Hanya menyisakan genangan air yang kondisinya keruh. Sementara itu, sebagian warga memanfaatkan embung untuk bercocok tanam.
”Sejak empat bulan yang lalu sudah mulai saya tanami tembakau, sampai sekarang. Jadi sedikit kami bisa manfaatkan,” terang Kimen, 50 salah satu petani kemarin.
Dijelaskan, waduk tersebut merupakan satu-satunya sumber irigasi bagi petani setempat. Ratusan hektare lahan pertanian warga mengandalkan pasokan air dari embung.
Sayangnya, sudah bertahun-tahun keberadaan embung Grojogan tak berfungsi optimal. ”Ini sudah lama mengering, hanya menyisakan genangan air sedikit di tengah itu,” bebernya.
Karena waduk mengering, petani pun kelimpungan mencari pasokan air untuk mengairi sawah. Ia berharap pemerintah memperhatikan nasib petani di wilayahnya serta memperbaiki fungsi embung Grojogan.
Sebab, selain menghabiskan anggaran besar, juga sangat dibutuhkan petani. ”Mestinya kan embung ini untuk menampung air saat musim penghujan, sehingga saat kemarau bisa dimanfaatkan petani. Kalau kering seperti ini kan muspro,” tandasnya.
Dia pun tak mengetahui pasti penyebab embung Grojogan tak bisa berfungsi maksimal. ”Ada yang ngomong waduknya bocor, tapi saya juga tidak ngerti,” bebernya.
Karena kesulitan pasokan air, petani pun memanfaatkan genangan sedikit air di tengah embung untuk menyiram tanaman. ”Karena sudah tidak bisa dialirkan ke sawah, jadi ngambilnya pakai ember,” jelas dia.
Dikonfirmasi terpisah, Kabid SDA Dinas PUPR Jombang Sultoni menjelaskan, embung Grojogan yang berada di Desa Plabuhan memang difungsikan sebagai irigasi pertanian di wilayah setempat.
”Sebenarnya tidak hanya dimanfaatkan pada saat musim kemarau. Tapi musim hujan dimanfaatkan petani, karena letak topografi Desa Plabuhan yang notabene berbukit-bukit, jadi butuh air dari embung tersebut,’’ ujar dia.
Sulthoni tak menampik jika pihaknya mendapat laporan terkait mengeringnya embung tersebut. Dari laporan yang diterima, salah satunya dikarenakan kebocoran pada embung tersebut.
Bahkan, kebocoran itu terjadi sejak lima tahun lalu. ”Kemarin kita menerima laporan adanya kebocoran di situ dan kita sudah sampaikan ke BBWS,” jelas dia.
Hanya saja, untuk menangani kebocoran yang dimaksud, pihak BBWS Brantas masih kesulitan untuk menemukan titik kerusakan. ”Itu kita masih kesulitan terutama untuk menentukan titik kerusakan,’’ jelas dia.
Semisal tidak terjadi kebocoran, ia memperkirakan embung tersebut masih dapat menampung air hingga beberapa bulan ke depan. ”Kalau tidak bocor harusnya bisa mengatasi irigasi, meskipun tidak bisa full satu tahun,’’ pungkasnya. (ang/naz/riz)
Editor : Achmad RW