Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Tekan Biaya Bahan Bakar, Petani di Jombang Pakai Elpiji Melon untuk Diesel Mereka

Ainul Hafidz • Sabtu, 29 Juli 2023 | 14:26 WIB

 

elpiji melon digunakan petani di Jombang untuk pengganti bahan bakar mesin diesel pompa air
elpiji melon digunakan petani di Jombang untuk pengganti bahan bakar mesin diesel pompa air

JOMBANG – Sejumlah petani di Kecamatan Kesamben, tengah berjuang memperoleh air di musim kemarau ini. Untuk meminimalisir biaya, mereka pun mengganti bahan bakar diesel menjadi gas elpiji melon.

Salah satunya dirasakan Kholidin, salah seorang petani di Desa Watudakon, Kecamatan Kesamben.

Ia harus mengairi lahan sawahnya seluas 1.400 meter persegi untuk memulai tanam jagung. ”Pengairan di sini sulit saat musim kemarau,” kata Kholidin.

Agar bisa tetap bercocok tanam, ia dan petani lainnya hanya bisa mengandalkan sumur pompa.

Hal itu menjadikan biaya operasional yang ia keluarkan untuk tanam jagung semakin membengkak. ”Untuk beli BBM bisa habis sekitar Rp 400 ribu,” imbuhnya.

Sebab, proses mengairi sawah tidak bisa hanya dilakukan sekali, namun harus beberapa kali. ”Perkiraan sekali mompa butuh BBM sekitar Rp 5-6 liter, itu sekitar Rp 60 ribu. Tinggal dikalikan tujuh kali sampai panen bisa habis sekitar Rp 400 ribuan,” imbuhnya.

Biaya itu bisa semakin membengkak jika harus menyewa mesin pompa juga untuk upah pekerja. ”Jadi petani di sini yang sering dikeluhkan petani itu, selain hama juga pasokan air minim,” singkatnya.

Karena alasan itu, dia kemudian memilih mengganti bahan bakar minyak dengan menggunakan elpiji melon alias elpiji 3 kilogram.

”Sekarang pakai elpiji, biar biayanya tidak semakin banyak. Karena satu tabung ini bisa buat satu hari,” lanjut dia.

Dikatakan, untuk mengganti bahan bakar itu, biasanya petani membawa ke salah satu bengkel. Merakit segala keperluan mulai dari slang dari tabung ke mesin pompa. ”Di sawah tinggal masang reguratornya saja ke tabung,” ujar Kholidin.

Hal serupa juga dilakukan Herman, petani asal Desa Carangrejo. Ia juga beralih ke 0elpiji 3 kilogram sebagai pengganti bahan bakar minyak. ”Biayanya terlalu banyak kalau pakai pertalite,” kata Herman.

Diakui, di wilayah setempat saat musim kemarau kesulitan air. Sehingga sebagian besar mengandalkan dari sumur bor. Rata-rata di setiap petak sawah kini terpasang mesin pompa. ”Biaya sendiri, kalau yang lain kadang jadi satu, tergantung sawahnya,” tutur Herman.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian (Disperta) Jombang M Rony mengakui, wilayah setempat selama musim kemarau pengairan sawah lebih banyak mengandalkan sumur bor. ”Jadi wilayah Kesamben dominan lahan tadah hujan, untuk pengairan saat kemarau banyak menggunakan pompa air,” kata Rony.

Dikatakan, biasanya mereka yang menggunakan mesin pompa air berasal dari irigasi pompa yang sudah disediakan. ”Irigasi pompa ini diperuntukkan lahan tadah hujan, sementara irigasi teknis sumber air dari sungai untuk lahan sawah teknis,” ujar Rony. (fid/naz/riz)

 

Editor : Achmad RW
#Kesamben #sawah #Elpiji Melon #Jombang #Diesel #pompa air #pengairan