JOMBANG – Dari total 26 titik jalur perlintasan langsung (JPL) kereta api yang menjadi wewenang Pemkab Jombang, masih ada tiga titik yang belum memiliki palang pintu. Penyebabnya, tentu saja kendala anggaran.
Kepala Dinas Perhubungan Jombang Budi Winarno mengatakan, tiga JPL yang belum berpalang pintu di antaranya JPL di Desa Jabon, Kecamatan Jombang, JPL di Desa Brambang, Kecamatan Diwek, dan JPL di Desa Gondangmanis, Kecamatan Bandarkedungmulyo.
”Ya ada tiga titik dari total 26 titik yang menjadi wewenang kita,’’ ujar dia kepada Jawa Pos Radar Jombang kemarin (14/7).
Dijelaskan, karena keterbatasan anggaran sehingga tahun ini tiga titIk JPL itu belum bisa dilengkapi fasilitas palang pintu. ”Insya Allah kita usulkan lewat APBD 2024, karena tahun ini kita sudah membangun di tiga titik,’’ terangnya.
Sementara itu, pantauan di jalur perlintasan langsung Desa Badas, tampak dijaga petugas kemarin. Solikin, 41, penjaga palang pintu mengatakan, di perlintasan kereta tersebut awalnya hanya dijaga beberapa warga dengan pembagian jadwal yang tidak menentu.
”Di sini awalnya dulu sering kecelakaan, terakhir ada mobil tertabrak kereta saat malam hari,’’ jelasnya.
Dari insiden itu, Pemdes Badas kemudian merekrut warga setempat untuk menjadi penjaga jalur lintasan sebanyak lima orang, termasuk dirinya.
”Saya bertugas mulai setahun ini. Kami berlima dibuat tiga sif, pagi satu orang, siang satu orang dan malamnya dua orang, yang satu libur bergantian terus setiap hari,’’ jelas dia.
Saat ini, dengan pembangunan palang pintu yang dibangun dishub, ia merasa lebih mudah dan lebih aman. Apalagi juga ada pos untuk petugas. ”Ya, kami juga dibangunkan pos penjagaan,’’ jelas dia.
Untuk honor, ia mendapat Rp 1 juta per bulan dari desa. Selain honor dari desa, mereka juga mendapat tambahan pemasukan dari pemberian sukarela pengguna jalan yang menyeberang perlintasan. ”Kalau harian tidak menentu, paling banyak Rp 40-Rp 50 ribu,’’ pungkasnya. (ang/naz/riz)
Editor : Achmad RW