JOMBANG - Geliat budi daya tanaman lanskap alias tanaman hias outdoor kian diminati di Kabupaten Jombang. Selain perawatannya cukup mudah, nilai jual yang dihasilkan juga sangat menggiurkan.
Suara gemericik air terdengar lirih saat Jawa Pos Radar Jombang melintas di Jl Basuki Rahmad Jombang, kemarin (3/7) pagi. Dari luar, hanya tampak sejumlah tanaman hias yang cukup familiar. Begitu masuk ke bagian dalam, saat memasuki rumah sederhana dengan pagar hitam itu, serasa masuk kawasan hutan lindung dengan aneka jenis tanaman langka.
Ya, disinilah Alfian Abdul Goni, 45, warga Desa Jabon, Kecamatan/Kabupaten Jombang, membudidayakan ratusan jenis tanaman hias outdoor yang kerap digunakan penataan lanskap atau ruang terbuka.
”Saya mulai membudidayakan tanaman jenis lanskap ini sejak 2003. Awalnya tertarik jenis tanaman hias pot-potan. Tapi seiring berjalannya waktu lebih tertarik jenis lanskap,’’ ujar dia sembari merawat tanamannya.
Cerita Alfian kepincut budi daya tanaman jenis lanskap berawal dari hobinya membeli tanaman hias di Punten Batu beberapa tahun silam. Di kawasan tersebut, ada berbagai macam tanaman dengan harga bervariatif. ”Kalau sama-sama perawatannya, kenapa tidak sekalian merawat yang lebih memiliki harga jual tinggi,’’ ujarnya.
Kali pertama, ia hanya mengenal jenis tanaman lokal seperti pule, kamboja, dollar, cemara maupun palem. Namun seiring berjalannya waktu, ia mulai tertarik dengan jenis tanaman impor yang langka dan sulit didapat. Misalnya, lohansung, sikas (pakis haji) maupun jenis tanaman penghijauan seperti moringa (kelor Afrika) dan babbab (kaki gajah). ”Ada juga seperti tabebuya, bungur dan garsenia,’’ jelas dia.
Soal perawatan, lanjut Alfian, tak ada cara khusus. Pembudidaya cukup menyiram secara rutin dan memberi pupuk organik. ”Bahkan beberapa jenis tanaman seperti garsenia itu tidak perlu disiram setiap hari. Jadi disiram seperlunya,’’ tambahnya sambil menunjuk ke tanaman garsenia.
Harga yang ditawarkan juga bervariatif. Mulai dari yang terkecil dengan tinggi 50 cm Rp 50 ribu, sampai harga tertinggi mencapai puluhan juta rupiah. ”Harga itu tergantung estetik atau keindahannya serta kelangkaannya. Apalagi ukurannya besar otomatis berpengaruh pada harga,’’ beber dia.
Jenis garsenia misalnya, dengan ketinggian 2 meter bisa dijual dengan harga Rp 2 juta. Atau jenis moringa dengan lingkar batang 1 meter bisa mencapai Rp 3 juta. ”Namun hal itu harga dari petani. Sebab, jika termasuk biaya angkut dan biaya tanam beda lagi. Karena jenis tanaman lanskap harus diangkut dengan kendaraan besar yang tentu menambah ongkos perjalanan,’’ pungkas Alfian. (ang/bin/riz)
Editor : Achmad RW