Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Begini Cara Pengolahan Keripik Gadung yang Masih Tradisional di Bareng Jombang

Azmy endiyana Zuhri • Jumat, 23 Juni 2023 | 15:35 WIB

 

Keripik gadung yang sedang dijemur sebelum dipasarkan.
Keripik gadung yang sedang dijemur sebelum dipasarkan.

JOMBANG - Keripik gadung lebih gurih dinikmati bila diolah secara tradisional. Di Dusun Tegalrejo, Desa/Kecamatan Bareng misalnya, produksi keripik gadung ini bisa mencapai 1,5 kuintal setiap hari. 

Cuaca terik membuat Wagiyem, makin semangat menjemur bahan olahan keripik gadung di teras rumahnya. Dengan hati-hati, irisan gadung  yang sudah dimasak itu dijemur. Kedua tangannya terlihat cekatan memilah irisan gadung dan diletakkan di atas sesek.

Satu-persatu sesek menjadi penuh irisan gadung. ”Caranya tradisional semua. Masaknya saja menggunakan pawon (tungku, Red),” ujarnya kemarin.

Selama 15 tahun membuat keripik gadung, ia tak pernah menggunakan kompor minyak. Semua dikerjakan di atas pawon berbahan kayu bakar.

Dia lantas menceritakan proses pembuatan keripik gadung cukup panjang. Bila tidak dikelola secara benar, keripik yang mempunyai cita rasa gurih dan renyah ini cukup berbahaya karena mengandung racun di dalam getah gadung. ”Getahnya beracun ini jadi harus dikelola dengan baik,” katanya.

Selama ini, Wagiyem dibantu suami dan anak pertamanya untuk mengupas gadung terlebih dahulu. Kemudian buah gadung diiris tipis-tipis. ”Untuk menghilangkan getah gadung diberi abu dan direndam menggunakan garam, agar cita rasanya gurih,” beber dia.

Setelah gadung diberi abu dan direndam air garam selama kurang lebih 24 jam. Irisan gadung itu baru direbus hingga bertekstur empuk. “Baru kemudian dijemur hingga kering. Kalau terik matahari sedang bagus, ya paling tidak dua hari sudah kering,” bebernya lagi.

Dalam satu hari, Wagiyem bisa memproduksi keripik gadung sebanyak 1,5 kwintal. Semua dijual dalam bentuk krecek. Sebagian juga digoreng tergantung pesanan konsumen. ”Ya biasanya ada yang mengambil langsung krecek, dan ada juga yang minta digorengkan,” ungkapnya.

Krecek keripik gadung itu dijual dengan harga Rp 40 ribu per kilogram. Berbeda dengan harga keripik gadung siap makan yang dijual lebih mahal, Rp 50 ribu per kilogram. ”Saya tidak menjual kemana-mana. Karena sudah ada yang mengambil sendiri,” pungkas Wagiyem. (yan/bin/riz)

 

Editor : Achmad RW
#usaha #camilan #produksi #Jombang #keripik gadung #bareng