JOMBANG – Musim kemarau mengakibatkan lahan pertanian cepat kering dan tanaman jagung mudah layu. Untuk menekan biaya operasional, petani memutar otak. Salah satunya menggunakan bahan bakar elpiji sebagai untuk mengoperasikan mesin pompa.
Seperti terpantau di Desa Turipinggir, Kecamatan Megaluh, Jumat (16/6) siang. Terlihat di salah satu petani tengah mengairi sawahnya menggunakan mesin pompa. Bukannya menggunakan bahan bakar minyak (BBM), tapi petani menggunakan gas elpihi 3 Kg.
”Kalau pakai pertalite biayanya tinggi, sehari bisa habiskan 5-7 liter. kalau dengan elpiji lebih hemat, satu tabung sudah cukup,” terang Garwadiono, 55, kepada Jawa Pos Radar Jombang.
Menurutnya, agar bisa dioperasikan menggunakan tabung elpiji, mesin pompa air harus dimodifikasi dahulu terutama di bagian karburatornya. ”Agar bisa disambungkan dengan elpiji,” bebernya.
Selain kreatif memilih bahan bakar, petani juga air dari Sungai Brantas. ”Kebetulan dekat dengan Sungai Brantas, jadi ambil airnya ambil dari sungai,” singkatnya.
Menurutnya, menggunakan bahan bakar elpiji bisa menghemat pengeluaran. ”Lebih murah menggunakan elpiji, hanya butuh 1 tabung 3 Kg untuk mengairi lahan 250 meter persegi, butuh waktu dari jam 5 sore hingga 5 petang,” tambahnya.
Bila menggunakan bensin biaya yang dikeluarkan petani akan lebih mahal. "Bila menggunakan pertalite bisa menghabiskan 5-7 liter, selisihnya cukup jauh dari menggunakan gas elpiji,” pungkasnya. (kris/naz/riz)
Editor : Achmad RW